MAKALAH DENDROLOGI "TAKSONOMI TUMBUHAN TINGKAT TINGGI"
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Tumbuhan tingkat tinggi merupakan tumbuhan yang
sudah berkormus dan memiliki alat reproduksi generatif. Tumbuhan tingkat tinggi
terbagi menjadi dua subdivisio yaitu Gymnospermae dan Angiospermae.
Gymnospermae merupakan tumbuhan yang berbiji terbuka dan belum memiliki bunga
sesungguhnya, sedangkan Angiospermae merupakan tumbuhan yang berbiji tertutup
dan sudah memiliki bunga yang sesungguhnya.
Subdivisio Angiospermae dibagi menjadi dua kelas
berdasarkan kepingan bijinya, yaitu Classis Monocotyledoneae merupakan biji
berkeping satu dan Classis Dicotyledoneae merupakan biji berkeping dua. Antara
dua kelas tersebut memiliki ciri khas masing-masing yang membedakannya satu
dengan yang lainnya.
Classis Monocotyledoneae merupakan kela tumbuhan
yang memiliki biji berkeping satu. Tumbuhan ini memiliki akar serabut, batang
lurus dan ada yang bercabang. Pertulangan daun umumnya sejajar atau melengkung.
Classis Monocotyledoneae dapat dibagi menjadi beberapa ordo. Dibawah ini akan
dibahas beberapa ordo mengenai Classis Monocotyledoneae.
Salah satu cara untuk lebih memahami dan mendalami
taksonomi tumbuhan adalah dengan mempelajari awal perkembangannya pada masa
lampau hingga keadaan mutakhir. Sejarah klasifikasi tumbuhan adalah salah satu
subjek yang perlu dipelajari. Dengan mempelajari sejarah dapat dipahami dan
diketahui siapa-siapa yang berjasa mengembangkannya, bagaimana ide dan alasan
mereka dalam membuat klasifikasi.
Apabila kita mempelajari taksonomi tumbuhan untuk pertama kali tentu
akan terkejut dengan banyaknya sistem klasifikasi. Sistem klasifikasi tumbuhan
ini berkembang menurut jamannya. Sistem-sistem yang ada terus berkembang
mengalami perubahan, perbaikan, atau segera dibuang sama sekali setelah
diperoleh data dan pengetahuan baru yang lebih sempurna. Perkembangan dan
kemajuan ilmu botani akan mempengaruhi corak dan sistem klasifikasi yang akan
dianut orang pada masa-masa tertentu.
Sebenarnya klasifikasi yang banyak dipakai sehari-hari adalah
menggolongkan tumbuhan berdasarkan sifat-sifat yang berguna bagi manusia
misalnya tanaman obat, rempah, serat, palawija, gulma dan sebagainya. Sistem
klasifikasi yang paling awal muncul adalah sistem klasifikasi berdasarkan
perawakan atau habitus, kemudian digantikan dengan sistem numerik, dilanjutkan
dengan sistem kekerabatan filogenetik. Pada masa sekarang ini dengan pesatnya
perkembangan teknologi, peralatan optik, dan komputer berdampak pada pesatnya
perkembangan ilmu taksonomi. Demikian pula sejalan dengan perkembangan ilmu
biologi molekuler sangat mempengaruhi sistem klasifikasi modern.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa yang dimaksud dengan taksonomi tumbuhan
2.
Jelaskan sejarah klasifikasi tumbuhan.
3.
Apa saja kegiatan pokok taksonomi.
C.
Tujuan Makalah
1.
Untuk mengetahui taksonomi tumbuhan.
2.
Untuk mengetahui sejarah klasifikasi tumbuhan.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN TAKSONOMI
Klasifikasi adalah pengelompokan aneka jenis
hewan atau tumbuhan ke dalam kelompok tertentu. Pengelompokan ini disusun
secara runtut sesuai dengan tingkatannya (hierarkinya), yaitu mulai dari yang
lebih kecil tingkatannya hingga ke tingkatan yang lebih besar. Ilmu yang
mempelajari prinsip dan cara klasifikasi makhluk
hidup disebut taksonomi atau sistematik.
Prinsip dan cara mengelompokkan makhluk hidup
menurut ilmu taksonomi adalah dengan membentuk takson. Takson adalah
kelompok makhluk hidup yang anggotanya memiliki banyak persamaan
ciri. Takson dibentuk dengan jalan mencandra objek atau makhluk hidup yang
diteliti dengan mencari persamaan ciri maupun perbedaan yang dapat diamati.
B.
SEJARAH KLASIFIKASI TUMBUHAN
Perbedaan
dasar yang digunakan dalam klasifikasi tumbuhan akan memberikan hasil
klasifikasi yang berbeda-beda sehingga terbntuklah sistem klasifikasi yang
berlainan. Berdasarkan tingkat peradabannya, manusia yang pertama-tama
melakukan kegiatan dibidang taksonomi tumbuhan khususnya klasifikasi pasti
memilah-milah dan mengelompkkan tumbuhan berdasarkan atas kesamaan ciri-ciri
yang berkaitan langsung dengan kehidupan manusia. Misalnya dihasilkan kelompok
tumbuhan penghasil bahan pangan, penghasil bahan sandang, pengasil bahan
obat-obat dan lain-lain. Selain itu juga dapat berdasarkan ciri-ciri yang mudah
diliat dengan mata telanjang seperti perawakan tumbuhan. Berdasarkan perawakan
tumbuhan (habitus), tumbuhan dikelompokkan menjadi emapat yaitu, pohon (arbor),
yang tumbuh tinggi dan besar serta berumur panjang, perdu, semak, dan terna
(herba).
Seiring dengan kemajuan teknologi dan peradaban ciri-ciri tumbuhan
yang pada mulanya tidak dapat diamati dapat dipertimbangkan untuk dijadikan
dasar dalam pengklasifikasian. Karena teknologi yang lebih maju telah dapat
mengamati bagian tersebut missalnya ciri-ciri anatomi, kandungan zat-zat kimia
dan lain-lain. Dalam dunia taksonomi tumbuhan dikenal berbagai sistem
klasifikasi yang masing-masing diberi nama berdasarkan tujuan yang ingin
dicapai atau dasar yang digunakan dalam pengklasifikasian. Sistem klasifikasi
yang bertujan pada penyederhanaan objek studi dalam bentuk suatu ikhtisar
lengkap seluruh tumbuhan disebut sistem buatan atau sistem artifisial. Dengan
keterlibatan ilmu-ilmu lain dalam taksonomi tumbuhan muncul sistem klasifikasi
lain yang tidak hanya bertujuan menyederhanakan objek sistem klasifikasinya
disebut sistem alam. Setelah lahirnya teori evolusi muncul sistem filogenetik
yang mencita-citakan tercerminnya jauh dekatnya hubungan kekerabatan antara
golongan tumbuhan yang satu dengan golongan tumbuhan yang lain serta urutannya
dalam sejarah perkembangan filogenetik tumbuhan. Kemajuan dalam ilmu kima dapat
mengungkap zat-zat apa saja yang ada dalam tumbuh-tumbuhan yang menyebabkan
timbulnya saran agar pengklasifikasian tumbuhan juga didasarkan pada kesamaan.
Atau kekerabatan zat-zat kimia yang terkandung didalamnya. Sehingga terbentuk
suatu aliran atau cabang dalam taksonom tumbuhan yang disebut kemotaksonomi.
Keberadaan teknologi canggih, salah satunya komputer maka
berkembang suatu aliran yang dikenal sebagai taksimetri atau taksonometri yang
berusaha untuk menetukan jauh dekatnya hubungan kekerabatan antara dua takson
tumbuhan melalui sistem pemberian nilai untuk kemiringan yang terdapat pada
organ yang sama pada dua kelompok tumbuhan yang berbeda dan kemudian dengan
penerapan analisis kelompok (CLUSTER analisis) dibentuk kelompok-kelompok untuk
menggambarkan jauh dekatnya hubungan kekerabatan diantara anggota kelompok.
Sistem
klasifikasi dan tokoh-tokoh pencetusnya
Pengklasikasian makhluk hidup secara umum digolongkan kedalam tiga
kelompok berdasarkan masanya, yaitu: sistem alami, sistem buatan, dan sistem
filogenetik. Sebagai tamabahan dikarenakan perkembangan zaman dikarenakan
perkembangan zaman maka disajikan pula periode sistem Filogenetik dari
Pertengahan abad ke 19 hingga sekarang.
A. Klasifikasi Sistem Alami
1) Theophrastus
dari Eresus (370 – 285 SM)
Theophrastus mengklasifikasikan tumbuhan terutama didasarkan atas
perawakan (habitus) yang dikelompokkan dalam empat golongan, yaitu: pohon,
semak atau perdu, tumbuhan memanjat, dan herba atau terna. Theophrastus disebut
sebagai bapak botani oleh linnaeus, dalam karyanya yang berjudul Historia
Plantarum telah memperkenalkan dan memberikan deskripsinya untuk sekitar 480
jenis tumbuhan.
2) Herbalis
Para
herbalis terutama melakukan penelitian terhadap penggunaan tumbuhan secara
praktis, pertama-tama ditinjau dari segi khasiatnya sebagai obat. Publikasi
(karya tulis) mereka yang sangat banyak itu disebut herbal. Berisi deskripsi
tentang tumbuhan asli setempat maupun jenis-jenis asing lainnya. Diantaranya
para tokoh yang termasuk dalam herbalis adalah Dicordies (50 - ? SM), Plinius
(23 – 79 SM), O. Brunfels (1464 - 1534 M), L. Fuchs (1501-1566 M), R. Dodoneus
(1516 – 1518 M), dan M. De L’Obel (1545 – 1612 M)
B. Sistem Klasifikasi Buatan
Klasifikasi
sistem buatan diperkenalkan oleh Carl von Linne (1707-1778), ahli ilmu
pengetahuan alam swedia yang namanya dilatinkan menjadi Carolus Linnaeus.
Sistem yang telah disusun yaitu sistem klasifikasi buatan. Maksudnya, kategori
organisme didasarkan pada sejumlah kecil sifat-sifat morfologi tanpa memandang
kesamaan struktur yang mungin memperlihatkan kekerabatan. Klasifikasi sistem
buatan ini antara lain mengelompokkan tumbuhan atas atas dasar bunga, masa
bunga, bentuk bunga, bentuk daun, jumlah benang sari, putik dan lain-lain.
Sistem klasifikasi buatan menggunakan sistem nomenklatur.
Sistem
klasifikasi tumbuhan yang diciptakan oleh Linnaeus masih dikategorikan sebagai
sistem artivisial. Nama Sistema Sexsuale untuk sistem yang diciptakan
sebenarnya tidak begitu tepat, karena pada dasarnya sistem ini tidak ditekankan
pada masalah jenis kelamin, tetapi pada kesamaan jumlah alat-alat kelamin
seperti jumlah benang sari. Nama-nama golongan tumbuhan yang diciptakan oleh
linnaeus seperti monandria (berbenang sari tunggal), diandria (berbenang sari
dua), triandria (berbenang sari tiga) dan seterusnya. Itulah sebabnya sistem klasifikasi tumbuhan ciptaan Linnaeus
dikenal pula sebagai sistem numerik.
Ciptaan
Linnaeus ini merupakan sistem yang dinilai revolusioner untuk masa itu, dan
memberikan pengaruh yang lebih besar dari pada sumbangan linnaeus yang lain,
dan sistem ini sengaja dirancang sebagai alat bantu dalam mengidentifikasi
tumbuhan dan ia juga dianggap sebagai pencipta sistem tatanama ganda yang
diterapkan dalam bukunya Species plantarum yang diterbitkan pada tanggal 1 mei
1753 yang menjadi pangkal tolak berlakunya tatanama tumbuhan yang diakui.
Sesungguhnya linnaeus dianggap tidak
tepat bila ia sebagai pencipta tatanama ganda. Sebelim linnaeus, sistem
tatanama ganda telah dirintis oleh caspar bauhin, yang dalam tahun 1623 dalam
bukunya pinax theatri botanici telah menerapkan sistem tatanama ganda pada
tumbuhan. Karena besar jasa-jasa yang diberikan oleh linnaeus bagi perkembangan
taksonomi pada umumnya dan taksonomi tumbuhan khususnya bagi dunia ilmu hayat
linnaeus mendapatkan gelar sebagai “bapak taksonomi” baik hewan maupun tumbuhan
dan juga mendapat pengakuan dari negara yang diberikan oleh raja swedia yang
mengangkat linnaeus ke jenjang bangsawan, sehingga nama karl linne diubah
menjadi karl von linne. Linneaus juga berperan penting dalam taksonomi tumbuhan
yang membangkitkan minat dan semangat siswa yang kemudian beberapa diantaranya
menjadi tokoh seperti gurunya. Diantaranya adalah Peter Kalm (1716-1779), F.
Hasselquist (1722-1752), P Forskal (1731-1760), C.P. Thunberg (1743—1828), J.
A. Murray (1740-1791), J. Roener (1763-1819), C. L. Wildenow (1765-1812), dan
J. Schultes (1773-1831).
C. Klasifikasi Sistem Filogenetik
Pada masa Linnaeus pendapat
umum menyatakan bahwa semua species berasal dari penciptaan khusus. Kemudian
masing-masing melanjutkan sifat aslinya sebagai species yang tetap dan
tidak berubah, mereka menduga bahwa pada awal dibentuknya makhluk hidup,
telah diciptakan makhluk hidup yang sama seprti makhluk hidup yang ada
sekarang. Kemudian makhluk hidup tetap hidup dan berkembang sampai sekarang.
Hal ini menyebabkan mereka tidak mengetahui bahwa terdapat kekerabatan antar
jenis organisme.
Berdasarkan teori evolusi darwin, maka
muncullah sistem klasifikasi modern berdasarkan filogeni, yaitu klasifikasi
yang disusun berdasarkan keturunan dan hubungan kekerabatan. Filogeni adalah
proses evolusi makhluk hidup dari filum tingkat rendah sampai tingkat tinggi.
Organisme yang berkerabat dekat memiliki persamaan ciri lebih banyak jika
dibandingkan dengan organisme yang berkerabat jauh. Ciri yang digunakan adalah
ciri morfologi, anatomo, fisiologi, dan perilaku.
Menjelang berakhirnya abad
ke-18 terjadi perubahan-perubahan yang revolusioner dalam pengklasifikasian
tumbuhan. Sistem klasifikasi yang baru ini disebut “sistem alam” yaitu golongan
yang terbentuk merupakan unit-unit yang wajar (natural) bila terdiri dari
anggota-anggota itu, dan degan demikian dapat tercermin pengertian manusia
mengenai yang disebut dikehendaki oleh alam. Secara harfiah istilah “sistem
alam” untuk aliran baru dalam klasifikasi ini tidak begitu tepat karena pada
hakekatnya semua sistem klasifikasi adalah sistem buatan. Untuk sistem
klasifikasi yang digunakan dalam periode ini, digunakan nama “sistem alam”
(natural system) dengan dimaksud untuk memenuhi keinginan manusia akan adanya
penataan yang tepat yang lebih baik dari sistem-sistem sebelumnya. Diantaranya
tokoh-tokoh yang berperan dalam klsifikasi sistem filogenetik adalah M.Adanson
(1727-1806), G. C. Oeders (1728-1791), J. R. de Lamarck (1744-1829), De Jussieu
bersaudara (1686-1779), dan All de Jussieu (1748-1836).
D. Periode Sistem Filogenetik dari pertengahan
abad ke 19 hingga sekarang
Teori
evolusi, teori desendensd atau teori keturunan seperti yang diciptakan oleh
darwin merupakan suatuteori hingga sekarang oleh sebagian orang terutama tokoh
agama masih dianggap kontroversial dan tetap ditentang kendati ajaran itu tetap
diterima dan cepat tersebar luas dikalangan kaum imuan yang begitu
fanatik terhadap teori ini sampai ada yang menyatakan, bahwa “evolusi bukannya
teori lagi, tetapi adalah suatu aksioma yang tidak perlu diragukan
kebenarannya, dan oleh karenanya tidak perlu diperdebatkan lagi”.
Sistem
klasifikasi dalam periode ini berupaya untuk mengadakan penggolongan tumbuhan
yang sekaligus mencerminkan urutan-urutan golongan itu dalam sejarah
perkembangan filogenetiknya dan demikian juga menunjukkan jauh dekatnya
hubungan kekerabatan yang satu dengan yang lain. Jadi dalam klasifikasi ini
dasar yang digunakan adalah adalah “filogeni” dan dari sini lahirlah nama
“sistem filogenetik” kenyataanya, bahwa kemudian mucul sistem klasifikasi yang
berbeda, membuktikan bahwa persepsi dan interpretasi para ahli biologi mengenai
yang disebut filogeni itu masih berbeda-beda.
Diantaranya
tokoh-tokoh ahli taksonomi dimasa ini adalah Alexander Braun (1805-1877), A. W.
Eichler (1839-1887), Adolp Engler (1844-1930), Charles E. Besseu (1845-1915),
Richard Werrstein (1862-1831 M), Alfred B. Rendle (1865-1939), Karl C. Mets
(1866-1944), Hans Halliers (Johan Gottfried Hallier) (1868-1932), August A.
Pulle (1878), Carl Skottberg (1880), dan John Hutchinson (1884-1972).
C. KEGIATAN POKOK
TAKSONOMI
Menurut Davis and Heywood
(1963), ada 4 tahapan perkembangan taksonomi yaitu: 1. Fase eksplorasi; 2. Fase
konsolidasi; 3. Fase biosistematik; 4. Fase ensiklopedik. Turril (1935) membagi
tahap ini dengan cara yang berbeda, lebih menunjukkan kesinambungan antara satu
fase ke fase yang lain, yaitu: taksonomi alfa yang ekuivalen dengan fase
eksplorasi dan konsolidasi, dan taksonomi omega ekuivalen dengan fase
ensiklopedik. Taksonomi alfa lebih kurang sepenuhnya tergantung pada ciri
morfologi luar, sedangkan taksonomi omega menekankan pada semua ciri taksonomi
yang ada.
1.
Fase
Eksplorasi
Fase
eksplorasi disebut juga fase pioneer, sesuai dengan salah satu tujuan taksonomi
yaitu inventarisasi semua tumbuhan yang ada di muka bumi. Pada fase ini yang
lebih ditekankan adalah identifikasi yang didasarkan pada herbarium yang
jumlahnya terbatas. Acuan utama adalah morfologi dan distribusi tumbuhan
tersebut.
2.
Fase
Konsolidasi
Fase ini disebut juga fase sistematika. Pada
fase ini studi lapangan dilakukan secara intensif dan bahan herbarium sudah
lebih lengkap. Banyak tumbuhan yang dinyatakan sebagai jenis pada fase
eksplorasi ternyata merupakan varian dari jenis lainnya dan banyak menemukan
jenis-jenis baru. Pada fase ini flora dan dasar-dasar monografi mulai
diterbitkan.
3.
Fase
Biosistematika
Fase ini disebut juga fase eksperimental.
Pengetahuan terhadap tumbuhan bukan hanya pada distribusi geografis tetapi juga
informasi pada tingkat yang lebih luas misalnya jumlah dan morfologi kromosom.
Pada fase ini kegiatan yang menonjol adalah: analisis sistem kawin silang, pola
variasi dan penelitian yang menyangkut aspek-aspek taksonomi di bidang kimia
(kemotaksonomi), taksonomi kuantitatif (numerical taxonomy), sitologi, anatomi,
embriologi, palinologi.
4.
Fase
Ensiklopedik
Fase ini merupakan
koordinasi dari ketiga fase sebelumnya. Semua data (ciri taksonomi) yang ada
dianalisis dan disintesis untuk membuat satu atau lebih sistem klasifikasi yang
mencerminkan hubungan kekerabatan secara filogenetis.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Klasifikasi
makhluk hidup (Tumbuhan) adalah kegiatan mengelompokkan/memberi nama berbagai
macam/jenis makhluk hidup (tumbuhan) berdasarkan kesamaan ciri/fungsi yang
dimiliki, dan bertujuan untuk memudahkan dalam mempelajarinya/mengenalnya.
Klasifikasi
tersebut bertujuan untuk menyederhanakan objek studi yaitu mencari
keanekaragaman dalam keseragaman. Kesamaan-kesamaan dan keseragaman itulah yang
nantinya akan menjadi dasar dalam pengklasifikasian jadi suatu takson atau
suatu unit mempunyai sejumlah kesamaan-kesamaan sifat. Semakin rendah tingkatan
suatu takson maka keseragaman individu dalam takson itu semakin dekat
kekerabatannya (kesamaannya lebih banyak).
Seiring
dengan kemajuan teknologi dan peradaban ciri-ciri tumbuhan yang pada mulanya
tidak dapat diamati dapat dipertimbangkan untuk dijadikan dasar dalam
pengklasifikasian. Karena teknologi yang lebih maju telah dapat mengamati
bagian tersebut misalnya ciri-ciri anatomi, kandungan zat-zat kimia dan
lain-lain. Dalam dunia taksonomi tumbuhan dikenal berbagai sistem klasifikasi
yang masing-masing diberi nama berdasarkan tujuan yang ingin dicapai atau dasar
yang digunakan dalam pengklasifikasian. Sistem klasifikasi yang bertujan pada
penyederhanaan objek studi dalam bentuk suatu ikhtisar lengkap seluruh tumbuhan
disebut sistem buatan atau sistem artifisial.
B. Saran
Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis sangat menunggu kritik dan saran yang
membangun dari pembaca semua sehingga penulis bisa menyusun makalah berikutnya
dengan lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
Campbell, Neil A, dkk. 2003. Biologi Edisi Kelima Jilid
2. Jakarta : Erlangga.
Didin
Rosidin. (2012). Klasifikasi da sejarah perkembangan taksonomi tumbuhan.
Diakses tanggal 9 februari 2017 dari http://rosidinbio.blogspot.co.id/2012/09/klasifikasi-dan-sejarah-perkembangan.html
Irfan
Firmansyah. (2015,april). Klasifikasi tumbuhan. Diakses tanggal 9 februari 2017
dari http://1225irfan.blogspot.co.id/2014/04/klasifikasitumbuhan-disusun-oleh.html
Rizki. 2011. Sistematika Tumbuhan (Bahan Ajar Materi
Kuliah Taksonomi Tumbuhan Tinggi). Padang : Rios Multicipta-padang.
Santoso, Djoko. 2006. Ensiklopedia Tumbuhan. Jakarta :
Exact.
Tjictrosoepomo, G. 2002. Taksonomi Tumbuhan
(Spermatophyta). Yogyakarta : Gajah Mada University Press.
💚💚💚
baca juga
https://astutialawiyahh.blogspot.com/2020/06/sosiologi-kehutanan-hutan-kemasyarakatan.html
https://astutialawiyahh.blogspot.com/2020/05/makalah-hasl-hutan-bukan-kayu-hhbk.html
https://astutialawiyahh.blogspot.com/2020/06/sosiologi-kehutanan-hutan-kemasyarakatan.html
https://astutialawiyahh.blogspot.com/2020/05/makalah-hasl-hutan-bukan-kayu-hhbk.html
Comments
Post a Comment