Lahan Rawa di Indonesia
REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN
Rehabilitasi hutan
dan lahan (RHL) adalah upaya untuk memulihkan, mempertahankan dan meningkatkan
fungsi hutan dan lahan sehingga daya dukung, produktifitas dan peranannya dalam
mendukung sisterm penyangga kehidupan tetap terjaga. (Risasmoko Andi, 2012).
Sistem
rehabilitasi hutan dan lahan merupakan sistem terbuka, yang melibatkan para
pihak berkepentingan dengan penggunaan hutan dan lahan. Dengan demikian,
rehabilitasi hutan dan lahan dilaksanakan oleh masyarakat dengan kekuatan utama
dari masyarakat sendiri. Rehabilitasi hutan dan lahan adalah segala upaya yang
dimaksudkan untuk memulihkan, mempertahankan dan meningkatkan fungsi hutan dan
lahan agar sehingga berfungsi optimal sebagai unsur produksi, perlindungan dan
unsur sosial yang menjamin keseimbangan lingkungan dan tata air Daerah Aliran
Sungai (DAS).
Ø LAHAN RAWA
Indonesia termasuk beriklim tropis basah dengan beragam
agroekosistem. Lahan rawa merupakan salah satu agroekosistem yang mempunyai wilayah antara lahan kering (terrestrial)
di hulu dan lahan basah berair dalam (deep water land) di
hilirnya.Kondisi ini memungkinkan besar dan ragam relung bagi tanaman buah dan
tumbuhan (flora) berkembang. Keragaman agroekosistem, termasuk lahan rawa yang
mempunyai kedudukan wilayah antara lahan kering (terrestrial) di hulu dan
lahan basah berair dalam (deep water land) di hilirnya memungkinkan
ragam relung bagi tanaman buah-buahan di lahan rawa. Luas lahan rawa di
Indonesia mencapai 33,43 juta ha, terbagi atas rawa pasang surut dan rawa lebak
yang mempunyai luas masing-masing 20,13 juta ha dan 13,28 juta ha.
Berdasarkan jenis tanah, lahan rawa terdiri atas tanah mineral
sekitar 18,56 juta ha dan tanah gambut 14,87 juta ha (BBSDLP 2014). Lahan rawa
pasang surut yang dipengaruhi oleh rezim air yang kuat dapat dibedakan dalam
empat tipe luapan,
yaitu tipe luapan A, B, C, dan D. Tipe A dan B disebut lahan rawa pasang surut langsung, sedangkan tipe C dan D disebut lahan rawa pasang surut tidak langsung. Sedangkan
lahan rawa lebak yang dipengaruhi oleh tinggi dan lamanya genangan dapat dibedakan dalam empat tipe, yaitu lebak dangkal, tengahan, dalam dan sangat dalam. Keragaman rawa yang sangat kompleks tersebut diatas memberikan konsekuensi munculnya anekaragam hayati tanaman hortikultura, termasuk buah-buahan (Balittra 2004, 2006).
yaitu tipe luapan A, B, C, dan D. Tipe A dan B disebut lahan rawa pasang surut langsung, sedangkan tipe C dan D disebut lahan rawa pasang surut tidak langsung. Sedangkan
lahan rawa lebak yang dipengaruhi oleh tinggi dan lamanya genangan dapat dibedakan dalam empat tipe, yaitu lebak dangkal, tengahan, dalam dan sangat dalam. Keragaman rawa yang sangat kompleks tersebut diatas memberikan konsekuensi munculnya anekaragam hayati tanaman hortikultura, termasuk buah-buahan (Balittra 2004, 2006).
(Tecno.tempo, 2018)
Ø
POTENSI KEANEKARAGAMAN JENIS
POHON DILAHAN RAWA
Hasil
eksplorasi menunjukkan keanekaragaman jenis pohon di lahan rawa sangat besar.
Berdasar jenis atau kelompok taksonomi dapat dipilah ke dalam kerabat:
(1) Pohon mangga,
(2) Pohon durian,
(3) Pohon gandaria/ramania
~Thanks For Reading~
Comments
Post a Comment