LAPORAN PRAKTIKUM KAYU ENERGI BRIKET ARANG TEMPURUNG KELAPA



I.PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pada saat ini ketergantungan pemerintah terhadap energi tidak terbarukan sangatlah besar. Pemerintah berupaya mencari sumber-sumber energi alternatif yang dapat diperbaharui, seperti energi biomassa. Biomassa merupakan salah satu diantara energi terbarukan dalam bentuk energi padat yang berasal dari tumbuhan berlignoselulosa baik yang langsung digunakan atau diproses terlebih dahulu (Tampubolon, 2008). Salah satunya briket arang dan biopellet. Pemanfaatan tempurung kelapa adalah dijadikan sebagai bahan bakar arang. Arang tempurung kelapa biasanya diolah lebih lanjut menjadi briket dan hinggamsaat ini digunakan oleh masyarakat untuk keperluanrumah tangga, usaha maupun industri. Bahan baku pembuatan wood pellet dapat berasal dari limbah industri penggergajian, limbah tebangan dan limbah industri kayu lainnya. Industri baru wood pellet mampu menghasilkan t sebesar 40.000 ton sedangkan produksi di dunia mencapai 10 juta ton. Jumlah ini belum memenuhi kebutuhan dunia pada tahun 2010 yang diperkirakan mencapai 12,7 juta ton. Peluang mengembangkan wood pellet sangat terbuka luas mengingat limbah hasil hutan Indonesia sangat besar (Anonim, 2010).
Industri penggergajian kayu, disamping menghasilkan kayu gergajian sebagai produk utamanya, juga menghasilkan limbah berupa sebetan, potongan dan serbuk kayu yang rata-rata jumlahnya 40,48% dari volume dolok dan, terdiri atas sebetan (22,32%), potongan kayu (9,39%) dan serbuk gergajian (8,77%) (Anonim, 2004). Limbah tersebut belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat. Martosudirjo, et al (1998) telah meneliti potensi limbah pengolahan kayu dan biomassa lainnya sebagaisumber energi terutama dalam pembangkit listrik.
Kemampuan terapan briket sebagai bahan bakar sangat dipengaruhi oleh sifat-sifatnya seperti komposisidan struktur yang keduanya ditentukan selama proses pembentukan briket berlangsung. Perubahan parameter proses seperti suhu dan tekanan akan berdampak pada perubahan sifat dan karakteristik bahan yang dihasilkan. Untuk itu diperlukan optimasi proses yang bertujuan untuk memperoleh sifat dan kemampuan terapan briket yang optimum. Selain itu pemanfaatan arang tempurung kelapa dalam bidang lain seperti sebagai sumber karbon aktif, elektroda dan baterei memberikan peluang untuk dilakukan kajian-kajian lanjutan.
1.2 Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut.
1.      Mengetahui pemanfaatan briket arang tempurung kelapa sebagai bahan bakar pengganti alami.
2.      Untuk memperoleh kegunaan wood pellet dari kayu akasia bahan baku limbah industri penggergajian.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Briket

Briket adalah sebuah blok bahan yang dapat dibakar yang digunakan sebagai bahan bakar untuk memulai dan mempertahankan nyala api. Briket yang paling umum digunakan adalah briket batu bara, briket arang, briket gambut, dan briket biomassa. Bahan baku briket deketahui dekat dengan masyarakat pertanian karena biomassa limbah hasil pertanian dapat dijadikan briket. Penggunaan briket, terutama briket yang dihasilkan dari biomassa, dapat menggantikan penggunaan bahan bakar fosil.
Bahan penyusun briket dapat mencakup:
1)      Arang kayu
2)      Batu bara
3)      Biomassa
4)      Gambut
Bahan pendukung:
1)      Batu kapur (pewarna)
2)      Pati (pengikat)
3)      Boraks (bahan pelepas, realease agent)
4)      Natrium nitrat (akselerator)
5)      Malam (wax, sebagai pengikat akselerator, dan penyala (igniter))
Briket dibuat dengan menekan dan mengeringkan campuran bahan menjadi blok yang keras. Bahan yang digunakan untuk pembuatan briket sebaiknya yang memiliki kadar air rendah untuk mencapai nilai kalor yang tinggi. Keberadaan bahan volatil juga mempengaruhi seberapa cepat laju pembakaran , bahan yang memiliki bahan volatil tinggi akan lebih cepat habis terbakar.
2.2  Arang
Arang adalah hasil pembakaran bahan yang mengandung karbon yang berbentuk padat dan berpori, sebagian besar porinya masih tertutup oleh hidrogen, ter, dan senyawa organik lain yang komponenya terdiri dari abu, air, nitrogen, dan sulfur. Proses pembuatan arang sangat menentukan kualitas arang yang dihasilkan. Briket arang bisa digunakan sebagai sumber energi alternatif pengganti minyak tanah dan kayu bakar yang harganya semakin naik, sehingga dapat menghemat biaya. Penggunaan briket arang dapat menghemat penggunaan kayu bakar, sehingga dapat mencegah kerusakan hutan secara fisik serta dapat mengurangi pelepasan CO2 ke atmosfer.
Tahun 2006 kebutuhan kayu bakar dunia mencapai 1,70 x 109 m3, seandainya briket arang digunakan sebagai pengganti kayu bakar, maka sekitar 6,07 x 109 m³ ton penambahan CO2 tahun ke atmosfir dapat dicegah (triono 2006).
2.3  Tempurung Kelapa
Tanaman kelapa sawit merupakan tanaman perkebunan yang memiliki peranan penting di Indonesia sebagai penyumbang devisa non minyak dan gas bumi terbesar. Tanaman tersebut menghasilkan minyak nabati. Potensi produksi minyak nabati yang berasal dari tanaman kelapa sawit menghasilkan enam ton per tahun dalam satu hektar tanaman tersebut (Sastrosayono, 2003). Asal tanaman kelapa sawit belum diketahui secara pasti. Menurut Pahan (2008), dugaan kuat tanaman kelapa sawit berasal dari dua tempat yaitu Afrika dan Amerika Selatan tepatnya Brasilia. Akan tetapi saat ini kelapa sawit sudah menyebar ke seluruh Negara beriklim tropis termasuk Negara Indonesia. Perkebunan kelapa sawit telah berkembang lebih jauh seiring dengan kebutuhan manusia terhadap minyak nabati dan produk industri oleokimia.
Perluasan perkebunan komoditas kelapa sawit dilaksanakan melalui perusahaan perkebunan swasta, perkebunan besar Negara (PTP/PTPN), dan perkebunan rakyat. Menurut Setyamidjaja (2006), daerah perkebuan kelapa sawit telah menyebar luas di seluruh Indonesia seperti Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jambi, Riau, Bengkulu, Lampung, Kalimantan Barat, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, dan Irian Jaya. Tanaman kelapa sawit (Gambar 1) merupakan tanaman monokotil yang secara taksonomi dapat diuraikan sebagai berikut :
Divisi : Embryophyta Siphonagama
Subdivisi : Angiospermae
Ordo : Monocotyledonae
Famili : Palmae
Sub-Famili : Cocoidae
Genus : Elaeis
Spesies : Elaeis guineensis



Elaeis oleifera
Elaeis odora

Gambar 1. Pohon Kelapa Sawit (Green Assembly, 2008)

Varietas atau tipe kelapa sawit berdasarkan pada tebal dan tipisnya cangkang (endocarp) terdiri dari Dura, Pisifera, dan Tenera (Setyamidjaja, 2006). Tipe Dura memiliki ciri-ciri daging buah (mesocarp) tipis, cangkang (endocarp) tebal (2-8 mm), inti (endosperm) besar, dan tidak terdapat cincin serabut. Persentase daging buah 35-60% dengan rendemen minyak 17-18%. Untuk tipe Pisifera memiliki ciri-ciri daging buah tebal, tidak memiliki cangkang tetapi terdapat cincin serabut yang mengelilingi inti. Pada tipe Tenera merupakan hasil silang antara tipe Dura dan Pisifera. Tipe ini memiliki tebal cangkang sekitar 0.5-4 mm, memiliki cincin serabut, sedangkan intinya kecil (Setyamidjaja, 2006). Berdasarkan penelitian Daud et al., (2004), Tempurung kelapa sawit terdiri dari selulosa 29.7%, holoselulosa 47.7%, dan lignin 53.4%.
Tanaman kelapa sawit dapat tumbuh dengan baik pada suhu 20-28o C. Kelapa sawit dapat tumbuh dengan baik dengan curah hujan di atas 2000 mm dan merata sepanjang tahun. Selain itu, penyinaran matahari mempengaruhi terhadap perkembangan buah kelapa sawit. Panjang penyinaran kelapa sawit yaitu 5-12 jam dengan kondisi kelembapan udara 80% (Pahan, 2008).
2.1  Kegunaan Kelapa Sawit
Sekitar 70% industri menggunakan produk arang aktif sebagai salah satu bahan yang digunakan pada proses pengolahannya seperti industri gula, sirup, minyak, air, farmasi dan kimia. Saat ini penggunaan arang aktif juga dilakukan pada keperluan rumah tangga yaitu sebagai penjerap bau tidak sedap dilingkungan rumah (Pari, 2007).
Dalam proses penjernihan air, arang aktif selain mengadsorpsi logam-logam seperti besi, tembaga, nikel, juga dapat menghilangkan bau, warna, dan rasa yang terdapat dalam larutan atau buangan air (Beukens et al., 1985). Di bidang farmasi, arang aktif juga digunakan untuk menyerap kotoran yang berupa koloid serta dapat berfungsi sebagai filter sehingga proses kristalisasi dapat dipercepat. Pada Industri rokok, arang aktif dimasukkan ke dalam filter rokok untuk mencegah atau mengurangi zat beracun yang dikeluarkan bersama asap rokok. Arang juga dapat menyerap emisi gas formaldehid dari formalin (Asano et al.,(1999) dalam Pari, 2007).
Arang aktif juga dapat dicampurkan ke dalam makanan domba sehingga dapat mencegah domba keracunan Hymenoxys odorata yang mengandung sesquiterpen lakton hymenoxon (George et al,, 2000 dalam Pari, 2007). Menurut Marsh et al., (2006) arang aktif dapat diaplikasikan pada fase gas yaitu sebagai pemurnian gas pada effluen, menghilangkan gas (SO2, H2S, CS2), adosorpsi radionuklir, dan mengontrol bau. Selain itu juga dapat digunakan untuk mengadsorpsi cairan yang tercemar yaitu mengadsorpsi iodin dan asam asetat, mengadsorpsi senyawa anorganik (kromium, uranium, nikel, kobalt, arsenik, dan merkuri) (Marsh et al., 2006). Fadhil et al., (2012) telah melakukan pemurnian biodiesel dengan menggunakan arang aktif berbahan baku dari bekas limbah teh yang dapat mengurangi bilangan asam biodiesel.
  
2.2  Kadar Air
Kadar air adalah sejumlah air yang terkandung di dalam suatu benda, seperti tanah (yang disebut juga kelembaban tanah), bebatuan, bahan pertanian, dan sebagainya. Kadar air digunakan secara luas dalam bidang ilmiah dan teknik dan diekspresikan dalam rasio, dari 0 (kering total) hingga nilai jenuh air di mana semua pori terisi air. Nilainya bisa secara volumetrik ataupun gravimetrik (massa), basis basah maupun basis kering.
Kadar air briket sangat mempengaruhi nilai kalor atau panas yang dihasilkan, tingginya nilai kadar air akan menyebabkan turunya nilai kalor. Hal ini disebabkan karena panas yang tersimpan dalam briket terlebih dahulu digunakan untuk menguapkan air yang ada sebelum kemudian menghasilkan panas yang dapat dipergunakan sebagai panaspembakaran (Afriyanto 2008).
Selain itu, rendahnya kadar air akan memudahkan briket dalam penyalaanya dan tidak menimbulkan banyak asap dalam pembakaranya. Faktor lain yang dapat menyebabkan rendahnya kadar air adalah lamanya proses pengeringan briket, penurunan kadar air briket dapat dilakukan dengan pengeringan konvensional atau biasa disebut dengan pengeringan menggunakan sinar ultra violet, pengeringan briket juga dapat dilakukan dengan menggunakan pengeringan dalam oven (afriyanto, 2008).
Rumus perhitungan kadar air pada briket :
Kadar Air (%) = a-b/a x 100%
Keterangan:   a : berat contoh uji (g) ;  b : berat kering tanur (g)
2.3  Zat Mudah Menguap (ZMM)
Zat Mudah Menguap (ZMM) atau zat terbang merupakan zat-zat mudah menguap yang terdapat di dalam arang aktif. Penetapan kadar zat terbang bertujuan untuk mengetahui kandungan senyawa yang belum menguap pada proses karbonisasi dan aktivasi, tetapi menguap pada suhu 950oc. Komponen yang terdapat dalam arang aktif adalah air, abu, karbon terikat, nitrogen, dan sulfur. Pada pemanasan dengan suhu 950oc, nitrogen dan sulfur akan menguap dan komponen yang menguap inilah yang disebut sebagai zat terbang. Prosedur perhitungan terhadap kadar zat mudah menguap dilakukan dengan menggunakan standar  ASTM D-3175  sebagai berikut :
Kehilangan Berat (%) = a-b/a x 100%
Kadar ZMM (%) = Kehilangan berat (%) – kadar air (%)
Keterangan :  ZMM = zat mudah menguap ; a = berat awal (g) ; b = berat setelah pemanasan (g)
2.4  Kadar Abu
Abu merupakan residu anorganik yang tersisa setelah pemijaran atau oksidasi sempurna bahan organik. Hasil yang didapatkan dari proses pengujian kadar abu adalah abu berupa oksida-oksida logam dalam arang yang terdiri dari mineral yang tidak dapat menguap pada proses pengabuan kadar abu. Abu merupakan oksida logam yang terdiri dari kalium, natrium, magnesium, kalsium, dan komponen logam lainnya. Penetapan kadar abu bertujuan untuk menentukan kandungan oksida logam tersebut di atas yang terdapat dalam arang aktif. Perhitungan kadar abu arang mengikuti  standar ASTM D-3174 sebagai berikut :
Kadar Abu (%) =c-b/a x 100%
Keterangan : a = berat contoh uji (g) ; b = berat cawan (g) ; c = berat cawan + berat abu (g)
2.5  Kadar Karbon Terikat
Kadar karbon adalah persen jumlah karbon yang terdapat pada fraksi padat hasil pembakaran selain abu dan zat-zat atsiri yang masih terdapat pada pori arang. Kadar karbon diperoleh berdasarkan hasil pengurangan dari seluruh berat contoh (100%) terhadap zat mudah menguap dan kadar abu. Kadar karbon murni dapat diketahui dengan membandingkan antara nilai kadar abu dan kadar zat terbang. Prosedur perhitungan kadar karbon terikat dilakukan dengan menggunakan standar ASTM D-3172 yaitu :
Kadar KT (%)  = 100% – (% Kadar Air  + % Kadar ZMM  + % Kadar Abu)
Keterangan  :  KT = karbon terikat  ; ZMM = zat mudah menguap)

III. METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat
            Tempat dilaksanakannya praktikum Kayu Energi ini di Lab Teknologi Hasil Hutan, Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Palangka Raya.
3.2 Alat dan Bahan
            Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini yaitu sebagai berikut.
Tabel 1 Alat dan Bahan
No.
Alat dan Bahan
Jumlah
1
Timbangan Analitik
1 buah
2
Desikator
1 buah
3
Penjepit
1 buah
4
Cawan Porselin Beserta Tutupnya
5 buah
5
Oven
1 buah
6
Califer
1 buah
7
Mistar
1 buah
8
Arang dari tempurung kelapa
Sesuai yang di butuhkan
2.3 Cara kerja
            2.3.1 Kadar Air
   Prosedur perhitungan kadar air  arang dengan mengambil sebagian dari contoh uji arang dan menimbangnya dengan berat 2 g sebagai berat contoh uji  (a). Contoh uji arang dikeringkan dalam oven pada suhu 103 ± 2°C sampai berat konstan. Selanjutnya didinginkan dalam desikator dan ditimbang sebagai berat kering tanur (b). Prosedur perhitungan kadar air arang dilakukan sesuai dengan standar ASTM  D-­3173, yaitu :
Kadar Air (%) = a-b/a x 100%
Keterangan:   a : berat contoh uji (g) ;  b : berat kering tanur (g)
2.3.2 Zat Mudah Menguap (ZMM)
Prosedur perhitungan kadar zat mudah menguap  arang (Gambar 3) dengan cara furnace contoh uji seberat 2 gram sebagai berat awal (a) pada tanur listrik bersuhu 900°C. Setelah suhu tercapai, cawan dan contoh uji dibiarkan dingin terlebih dahulu dalam tanur, kemudian contoh uji dimasukkan dalam desikator untuk ditimbang sebagai berat setelah pemanasan (b). Prosedur perhitungan terhadap kadar zat mudah menguap dilakukan dengan menggunakan standar  ASTM D-3175  sebagai berikut :
Kehilangan Berat (%) = a-b/a x 100%
Kadar ZMM (%) = Kehilangan berat (%) – kadar air (%)
Keterangan :  ZMM = zat mudah menguap ; a = berat awal (g) ; b = berat setelah pemanasan (g)
2.3.3 Kadar Abu
Prosedur penentuan kadar abu  (Gambar 3) dengan cara furnace contoh uji seberat  2 gram sebagai berat awal (a), kemudian dimasukkan ke dalam cawan porselin atau cawan pengabuan (b).  Cawan yang berisi arang tersebut ditanurkan pada suhu 600°C selama  4 jam. Setelah asap berhenti yang berarti karbon hilang, tutup tanur dibuka selama 1 menit untuk menyempurnakan proses pengabuan. Kemudian abu dalam cawan dimasukkan dalam desikator dan ditimbang sebagai berat cawan+berat abu (c). Perhitungan kadar abu arang mengikuti  standar ASTM D-3174 sebagai berikut :
Kadar Abu (%) = c-b/a x 100%
Keterangan : a = berat contoh uji (g) ; b = berat cawan (g) ; c = berat cawan + berat abu (g)   
2.3.4 Kadar Karbon Terikat
Prosedur perhitungan kadar karbon terikat dilakukan dengan menggunakan standar ASTM D-3172. Kadar karbon terikat adalah fraksi karbon dalam arang selain fraksi abu, zat mudah menguap, dan air, yaitu :
Kadar KT (%)  = 100% – (% Kadar Air  + % Kadar ZMM  + % Kadar Abu)
Keterangan  :  KT = karbon terikat  ; ZMM = zat mudah menguap)

IV.PEMBAHASAN

4.1 Kadar Air
            Berikut hasil grafik kadar air pada briket arang.
Gambar 2. Grafik Kadar Air Briket Arang

Briket arang pada tempurung kelapa sawit memiliki sifat higroskopis (mudah menyerap air dari sekelilingnya) yang tinggi. Penghitungan kadar air bertujuan untuk mengetahui sifat higroskopis briket arang hasil praktikum. Pengukuran kadar air briket arang dilakukan setelah dikempa dan dikeringkan dengan nilai rata-rata kadar air dibawah SNI yaitu 8%. Nilai rata-rata kadar air briket arang dapat dilihat pada lampiran. Berdasarkan grafik 1 terlihat bahwa nilai kadar air awal briket terendah pada perlakuan 3 adalah 1,41 %. Hal ini sesuai dengan pernyataan Triono (2006) tingginya kadar air disebabkan karena jumlah pori-pori yang lebih banyak. Kadar air sangat berpengaruh terhadap kualitas briket yang dihasilkan, semakin rendah kadar air briket maka akan semakin tinggi nilai kalor dan daya pembakarannya. Kadar air yang tinggi akan membuat briket sulit dinyalakan pada saat pembakaran dan akan banyak menghasilkan asap, selain itu akan mengurangi temperatur penyalaan dan daya pembakarannya (Hutasoit, 2012).
Kadar air merupakan salah satu karakteristik arang aktif yang sangat penting terhadap mutu arang aktif. Kadar air pada arang aktif mampu mempengaruhi daya serap baik terhadap cairan dan gas. Kadar air arang aktif juga dipengaruhi oleh suhu dan waktu aktivasi. Semakin tinggi suhu dan semakin lama waktu aktivasi menyebabkan kadar air arang aktif akan semakin rendah.
Peningkatan kadar air lebih disebabkan oleh sifat higroskopis arang aktif yang dapat menarik kandungan air. Semakin higroskopis suatu bahan maka kemampuan bahan untuk menarik kandungan air udara akan semakin tinggi. Menurut Hendra (2007), kadar air yang tinggi disebabkan oleh sifat higroskopis arang aktif dan juga adanya molekul uap air yang terperangkap di dalam kisi-kisi heksagonal arang.
4.2 Zat Mudah Menguap (ZMM)
Berikut hasil tabe 2l zat mudah menguap pada briket arang.
Sampel
ZMM (%)
Rata-rata
1
6,79
8,67
2
12,64
3
14,32
4
1,59
5
8,00
Kadar zat terbang merupakan parameter untuk mengukur banyaknya zat yang menguap pada saat proses pemanasan. Parameter tersebut dapat mengukur tingkat adsorpsi arang aktif. Semakin tinggi kadar zat terbang pada arang aktif maka sifat menyerap larutan dan gas akan semakin rendah. Kadar zat terbang merupakan zat yang dapat menguap sebagai hasil dekomposisi senyawa-senyawa yang masih terdapat di dalam arang selain air. Hasil praktikum menunjukan nilai kadar zat terbang arang aktif rata-rata berkisar antara 8.64 %. Nilai kadar zat terbang tersebut masih memenuhi SNI arang aktif teknis. SNI menetapkan kadar zat terbang arang aktif maksimal 25%. Kadar zat terbang tertinggi adalah pada sampel 3 yaitu 14,32%. Sedangkan yang terendah pada sampel 4 yaitu 1,59%.
Menurut Hendra (2007), Tinggi rendahnya kadar zat terbang yang dihasilkan disebabkan karena permukaan arang masih tertutupi oleh atom H yang terikat kuat pada atom C pada permukaan arang aktif sehingga mempengaruhi daya serap. Menurut Pari et al., (2008), suhu dan lama waktu aktivasi tidak memberikan pengaruh proses penguapan senyawa non karbon yang terdapat pada permukaan arang aktif.
4.3 Kadar Abu
Berikut hasil grafik kadar abu pada briket arang.
Gambar 3. Grafik Kadar Abu Briket Arang

            Kadar abu merupakan bagian yang tersisa dari hasil pembakaran, dalam hal ini abu yang dimaksud adalah abu sisa pembakaran briket. Salah satu penyusun abu adalah silika, pengaruhnya kurang baik terhadap nilai kalor briket arang yang dihasilkan. Kadar abu briket berpengaruh terhadap nilai kalor dan nilai kadar karbon. Semakin kecil nilai kadar abu maka semakin tinggi nilai kalor dan kadar karbonnya. Nilai kadar abu briket pada setiap sampel dapat dilihat pada grafik 3. Berdasarkan lampiran terlihat bahwa nilai kadar abu rata-rata adalah sebesar 5,30%.  Nilai tertinggi kadar abu berada pada perlakuan 5 arang yaitu 6,50%. Suhu yang tinggi menyebabkan deposit atau endapan unsur anorganik lebih banyak menempel pada bahan. Tingginya kadar abu disebabkan oleh proses oksidasi terutama pada suhu tinggi (Sudrajat dan Suryani 2002 dalam Wibowo 2009).
Kadar abu merupakan komponen anorganik bahan yang tertinggal pada pemanasan 900o c. Kadar abu arang aktif diuji untuk mengetahui kandungan oksida logam dalam bahan. Tingginya kadar abu pada arang aktif dapat mempengaruhi daya adsorpsi baik terhadapa larutan maupun gas. Abu yang terbentuk disebabkan karena bahan memiliki unsur mineral seperti kalsium, kalium, natrium, dan magnesium. Kandungan tersebut menyebar dalam kisi arang aktif sehingga menutupi pori arang aktif (Pari et al, 2001).
4.1 Kadar Karbon Terikat
            Kadar karbon terikat (fixed carbon) merupakan fraksi karbon (C) yang terikat di dalam briket selain fraksi abu, air, dan zat menguap. Kadar karbon akan bernilai tinggi apabila kadar abu dan kadar zat menguap briket rendah. Selain itu, nilai kadar air yang rendah akan meningkatkan nilai kadar karbon. Kadar karbon briket berpengaruh terhadap nilai kalor. Semakin besar nilai kadar karbon maka semakin tinggi nilai kalornya. Kadar karbon yang tinggi pada briket akan menghasilkan briket berkualitas baik. Berdasarkan hasil pengamatan dan perhitungan yang dilakukan, maka nilai kadar karbon dapat dilihat seperti pada Tabel 3.
Sampel
Kadar Air (%)
Kadar Zat Mudah Menguap (%)
Kadar Abu (%)
ZMM (%)
Rata-rata
1
1,46
6,79
5,00
86,75
83,13
2
1,51
12,64
5,00
80,85
3
1,41
14,32
4,50
79,77
4
8,43
1,59
5,50
84,48
5
1,68
8
6,50
83,82

Berdasarkan Tabel 3 dapat dilihat bahwa nilai kadar karbon tertinggi terdapat pada sebesar 85,75 %, dan nilai kadar karbon terkecil sebesar 79,77 %. Menurut Rustini (2004) bahwa kadar karbon di dalam briket arang dipengaruhi oleh nilai kadar abu, semakin rendah nilai kadar abu briket arang maka nilai kadar karbon terikatnya akan semakin tinggi. Hal ini sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan bahwa perlakuan yang memiliki nilai kadar abu rendah maka akan menghasilkan nilai kadar karbon yang tinggi begitu juga sebaliknya. Tinggi dan rendahnya kadar karbon terikat dipengaruhi oleh nilai kadar abu dan kadar zat terbang pada arang aktif. Semakin tinggi nilai kadar abu dan kadar zat terbang maka nilai kadar karbon terikat akan semakin rendah. Selain dipengaruhi oleh kadar zat terbang dan kadar abu, kadar karbon terikat juga dipengaruhi oleh kandungan selulosa dan lignin yang dapat dikonversi menjadi atom karbon.

V. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
            Tempurung kelapa sawit dapat dijadikan sebagai arang aktif. Arang aktif tempurung kelapa sawit pada penelitian ini memiliki karakteristik antara lain kadar air 2,90%, kadar zat terbang 8,67%, kadar abu 5,30%, kadar karbon terikat 83,13%. Kadar karbon yang dihasilkan tempurung kelapa sawit tinggi maka nilai kadarabu dan zat terbang terikatnya akan semakin tinggi. Kadar air pada briket kelapa sawit memiliki nilai rata-rata yang rendah karna nilai kalor dan daya pembakarnya tinggi dan pori-porinya yang rendah.
5.2 Saran
            Pada praktikum ini sebaiknya mahasiswa mengikuti pengolahan briket arang dari kelapa sawit guna mengetahui proses pengerjaannya.

DAFTAR PUSTAKA
Alpian, Herwin J., Mahdi S. 2019. Penuntun Praktikum Mata Kuliah Pilihan: Kayu Energi. Palangka Raya. Fakultas Pertanian Jurusan Kehutanan Universitas Palangka Raya.
Fadhil A.b, Dheyab M M, and Abdul Qader Y. 2012. Purification of Biodiesel Using Activated Carbons Produced From Spent Tea Waste. Journal of the Associaton of Arab Universities for Basic and Applied Sciences 11: 45-49.
Green Assembly. 2008. Malaysia Backpedalling on Oil Palm Leadership, Says NGO. http://www.greenassembly.net/wp-content/uploads/2008/10/oil-palm-tree.jpg. [8 Agustus 2012]
Hendra D.2007. Pembuatan Arang Aktif Dari Limbah Pembalakan Kayu Puspa Dengan Teknologi Produksi Skala Semi Pilot. Jurnal Penelitian Hasil Hutan vol 25 : 93-107.
Marsh H and Reinoso F R. 2006. Activated Carbon. Elsevier Science and Technology.
Pahan I. 2008. Panduan Lengkap Kelapa Sawit Manajemen Agribisnis dari Hulu Hingga Hilir. Jakarta: Penebar Swadaya.
Pari G. 2007. Teknologi Pembuatan dan Uji Mutu Arang, Briket Arang, dan Arang Aktif. Seminar Tenaga Teknis Penguji HHBK. Palembang: Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan
Sastrosayono S. 2003. Budidaya Kelapa Sawit. Jakarta : Agromedia Pustaka.
Setyamidjaja D. 2006. Kelapa Sawit Teknik Budidaya, Panen dan Pengolahan. Yogyakarta : Kanisus
Sudrajat R, Suryani A. 2002. Pembuatan dan Pemanfaatan Arang Aktif dari Ampas Daun Teh. Di Dalam Wibowo S. 2009. Karakteristik Arang Aktif Tempurung Biji Nyamplung (Calophyllum inophyllum L) dan Aplikasinya Sebagai Adsorben Minyak Nyamplung. Tesis. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Triono. 2006. Pedoman Pengolahan Limbah Industri Kelapa Sawit. Jakarta. Departemen Pertanian.


~Thanks for Reading~





Comments

Popular posts from this blog

MAKALAH PERLINDUNGAN DAN PENGAMANAN HUTAN HAMA DI HUTAN ALAM DAN HUTAN TANAMAN

Laporan Praktikum Erosivitas Konservasi Sumber Daya Alam Hayati

Lahan Rawa di Indonesia