SIFAT-SIFAT DASAR KAYU KADAR AIR PADA POSISI AKSIAL DAN RADIAL KAYU SUKUN (Arthocarpus communis, J.R dan G.Frest)


I. PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Kayu adalah bagian batang atau cabang serta ranting tumbuhan yang mengeras  karena mengalami lignifikasi (pengayuan). Kayu digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari memasak, membuat perabot (mejakursi), bahan bangunan (pintujendelarangka atap), bahan kertas, dan banyak lagi. Kayu juga dapat dimanfaatkan sebagai hiasan-hiasan rumah tangga dan sebagainya. Penyebab terbentuknya kayu adalah akibat akumulasi selulosa dan lignin pada dinding sel berbagai jaringan di batang.
Ilmu kayu (wood science) mempelajari berbagai aspek mengenai klasifikasi kayu serta sifat-sifat kimia, fisika, dan mekanika kayu dalam berbagai kondisi penanganan. Beberapa jenis kayu dipilih karena bersifat kedap air, isolator, dan mudah dibentuk dan kayu juga merupakan bahan yang mempunyai sifat higroskopis,dapat menyerap dan melepaskan air, sehingga kadar air dapat berubah-ubah sesuai dengan suhu dan kelembaban.kadar air merupakan gambaran mengenai banyaknya air yang ada pada suatu kayu. Kadar air didefinisikan sebagai persen berat kayu bebas air atau kering tanur. Kadar air didefinisikan sebagai berat air dalam kayu yang dinyatakan dalam pecahan, biasanya dalam persen dari berat kering kayu. Berat, penyusutan, pengembangan, kekuatan dan sifat-sifat lainnya tergantung pada kadar air kayu. Jumlah subtansi dinding sel pada kayu, sebagai berat jenis adalah indicator yang penting dalam beberapa sifat fisika kayu.

1.2  Tujuan
    Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar air  sukun  beserta variasinya pada arah aksial dan radial  batang.
1.3  Rumusan Masalah
     Adapun rumusan masalah adalah sebagai berikut:
1.              Bagaimana mengetahui kadar air pada kayu sukun?
2.              Bagaimana mengetahui kadar air pada bidang radial dan aksial?

II. PEMBAHASAN

2.1 Kayu Sukun
   Nama lain dari sukun adalah buah roti. Disebut buah roti dikarenakan tekstur, rasa serta kandungannya mirip dengan roti. Tanaman sukun termasuk dalam tanaman tahunan. Menurut Jones dan Luchsinger (1986), dalam dunia tumbuh-tumbuhan klasifikasi sebagai berikut.
Kingdom         : Plantae
Divisi               : Tracheophyta
Subdivisi         : Spermatophytina
Kelas               : Magnoliopsida
Ordo                : Rosales
Famili              : Moraceae
Genus              : Artocarpus J.R Forst & G. Forst
Spesies : Artocarpus altilis (Parkinson) Fosberg.

2.2 Kadar Air
        Kadar air didefinisikan sebagai berat air yang dinyatakan sebagai persen berat kayu bebas air atau kering tanur yang biasanya dinyatakan dalam persen dari berat kering kayu. Berat, penyusutan, pengembangan, kekuatan dan sifat-sifat lainnya tergantung pada kadar air kayu (Haygreen dan Bowyer, 1996). Pada makalah ini dilakukannya penelitian kadar air pada kayu sukun arah aksial dan arah radial dengan diameter 43,6 cm. Kayu yang digunakan adalah kayu yang bebas cabang dan bebas cacat.
a)   Pembuatan contoh uji dan ukuran dimensi contoh uji kadar air ini mengacu pada British Standard no 373 tahun 1957 dengan ukuran 2cm x 2cm x 2cm. 
        Cara Pengukuran Penelitian kadar air kayu dilakukan dengan menimbang contoh uji segar (Bo). Contoh uji kemudian dikeringkan  di dalam oven pada suhu 103± 2oC selama 12 jam. Setelah itu, contoh uji dikeluarkan dan dimasukkan ke dalam desi- kator selama 10-15 menit. Kemudian beratnya ditimbang lagi dan dicatat. Pengovenan diulangi lagi dengan waktu yang lebih singkat (setiap 2 jam) dan diteruskan penimbangan sampai con- toh uji tersebut konstan beratnya (berat kayu kering tanur/BKt). Kadar air ditentukan dengan rumus :
                             Kadar Air (%) = Bo-BKt/BKt x 100
Keterangan :
Bo   = berat awal contoh uji (gr)
BKt = berat contoh uji kering tanur (gr)
Berdasarkan cara perhitungan diatas, diperoleh hasil kadar air segar kayu sukun adalah 116,32% dengan kisaran antara 01,18% - 139,62%. Namun nilai kadar air segar ini tergantung juga pada bulan dan musim saat pohon ditebang. Pada bulan yang berbeda kadar airnya juga akan berbeda yang dipengaruhi oleh musim, atau lebih jelas pada musim penghujan kadar airnya akan lebih tinggi dibandingkan pada musim kemarau. Saat penebangan, sedang berlangsung peralihan dari musim kemarau ke musim penghujan. Nilai kadar air segar yang diperoleh dari hasil penelitian ini sesuai dengan USDA (1974) yang mengemukakan bahwa jumlah kadar air kayu pada pohon yang masih berdiri atau baru saja ditebang berkisar antara 40% - 200% berdasarkan berat kering tanur.
Hasil perhitungan rerata kadar air segar kayu sukun pada kedudukan aksial, dapat diketahui bahwa kadar air segar kayu sukun memiliki kecenderungan menurun dari bagian pangkal sebesar 121,43% ke bagian tengah sebesar 120,38% lalu turun lagi ke bagian ujung sebesar 110,66%, seperti pada gambar 2.

      
Gambar 2. Variasi Aksial  Kadar Air Segar Kayu Sukun
(Artocarpus communis, J.R dan G.Frest)
Hal ini dimungkinkan karena kadar air dipengaruhi dan sering berbanding terbalik dengan berat jenis. Menurut Prawirohatmodjo (2001), antara berat jenis dan kadar air segar terdapat hubungan negatif yang kuat, dimana peningkatan berat jenis kayu akan menyebabkan penurunan kadar air segar kayu dan sebaliknya. Setelah dilakukan analisis keragaman, ternyata kedudukan aksial kadar air segar  kayu sukun menunjukan perbedaan yang sangat nyata antara bagian pangkal dengan bagian tengah batang.
Pada kedudukan radial, kadar air segar kayu   sukun menurun dari bagian dekat hati sebesr 129,88% ke bagian tengah sebesar 107,66, kemudian naik ke bagian dekat kulit seebsar 114,37%. Menurut Marsoem (1999), banyak jenis kayu di Indonesia yang kadar airnya tinggi di dekat empulur, diantaranya adalah akasia man- gium, akasia auri, jati dan beberapa jenis lagi. Setelah dilakukan analisis keragaman, kadara segar kayu sukun tidak menunjukan perbedaan yang nyata pada tiga kedudukan aksial. Hal ini menguntungkan karena di dalam penyimpanan dan pengeringan nanti, kayu sukun tidak me- merlukan perlakuan khusus karena kadar air segarnya yang relatif seragam pada kedudukan radial. Kadar air segar yang tidak seragam pada kedudukan radial biasanya memerlukan per- lakuan khusus untuk mencegah terjadinya cacat (pecah dan retak) akibat penyusutan kayu yang tidak seragam selama kayu kehilangan air, seperti penutupan bontos (bisa dengan lilin, parafin, coating dan sebagainya).
Rata-rata kadar air kering udara kayu sukun adalah 13,66% dengan kisaran antara 12,22%-15,23%. Nilai ini masing tinggi dibandingkan dengan hasil penelitian Untoro (2005) tentang lamanisi kayu nangka yang menyebutkan bahwa kadar air udara  rata-rata sebesar 11,94%, walaupun hal ini kurang baik untuk diperbandingkan karena produk laminasi bukanlah kayu pejal. Nilai kadar air kering udara kayu sukun dalam penelitian ini dicapai setelah semua contoh uji diangin-anginkan selama 22 hari dan berat semua contoh uji sudah kontan. Besarnya kadar air kering udara kayu sukunh pada penelitian ini termasuk dalam kisaran besarnya nilai kadar air udara kayu untuk iklim indonesia yaitu sebesar 12%-20% (Oey,1990).

III. PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Adapun Kesimpulan dari makalah ini adala bahwa nilai kadar air    tergantung pada bulan dan musim saat pohon ditebang. Pada bulan yang berbeda kadar airnya juga akan berbeda yang dipengaruhi oleh musim, atau lebih jelas pada musim penghujan kadar airnya akan lebih tinggi dibandingkan pada musim kemarau.

DAFTAR PUSTAKA
Haygreen, J.G dan J.L Bowyer, 1996. Hasil Hutan dan Ilmu Kayu. Suatu Pengantar (Terjemahan Sutjipo,AH), Gadjah Mada University Press Yogyakarta.
Jones , Jr. S.B and A.E Luchsinger, 1986. Plant systematic. McGrowHill Book Company, New York.
Marsoem S.N., 1996. Petunjuk Praktikum Fisika Kayu.Fakultas Kehutanan UGM, Yogyakarta.
Oey-Djoen-Seng, 1964. Berat Jenis Dari Jenis-Jenis Kayu Indonesia Dan Pengertian Beratnya Kayu Untuk Keperluan Praktek. Diterjemahkan Oleh Soewarsono P.H, 1990. Pusat Penelitian Dan Pengembangan Hasil Hutan, Bogor.
Purbayanti   E.  D   dan   Andani,   Sri.  1991.   Fisiologi   Lingkungan   Tanaman. Yogyakarta:  Gadjah Mada University Press.
Prawirohatmodjo, S., 2001. Sifat Fisik Kayu, Yayasan Pembinaan Fakultas Kehutanan Universitasgadjah Mada, Yogyakarta.
Untoro, B.S., 2005. Pengaruh Jumlah Perekat Dan Tekanan Kempa Terhadap Papan Laminasi Kayu Nangka (Skripsi), Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada , Fakultas Kehutanan.
US. Departement of Agriculture (USDA), 1974. Wood Handbook : Wood As An Engineering Material. Agriculture Handbook No. 72 USDA, USA.
💚Happy Reading💚


Comments

Popular posts from this blog

MAKALAH PERLINDUNGAN DAN PENGAMANAN HUTAN HAMA DI HUTAN ALAM DAN HUTAN TANAMAN

Laporan Praktikum Erosivitas Konservasi Sumber Daya Alam Hayati

Lahan Rawa di Indonesia