Laporan Praktikum Erosivitas Konservasi Sumber Daya Alam Hayati
I.PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Air merupakan penyebab
utama terjadinya erosi. Banyaknya air yang mengalir di atas permukaan tanah
tergantung pada hubungan antara kapasitas infiltrasi tanah dengan kapasitas
penyimpanan air tanah. Tumbuhan yang hidup di permukaan tanah dapat menambah
cepatnya infiltrasi, memperkecil kekuatan perusak butir-butir hujan yang jatuh,
daya dispersi, serta mengurangi daya angkut aliran di atas permukaan tanah.
Manusia juga sangat berperan dalam menentukan baik atau rusaknya tanah yaitu
pada perlakuan terhadap tumbuhan-tumbuhan dan tanah.
Prediksi
erosi pada sebidang tanah (lahan) adalah metode untuk memperkirakan laju erosi
atau bahaya erosi yang akan terjadi pada tanah dengan bentuk penggunaan lahan
dan pengelolaan tertentu. Prediksi erosi yang umum dipergunakan pada saat ini
adalah model parametric yang dikembangkan oleh Wischmeier dan Smith (1978),
yang disebut the Universal Soil Loss Equation (USLE). USLE memungkinkan
perencanaan menduga laju rata-rata erosi suatu tanah untuk setiap macam
pertanaman dan tindakan pengelolaan (konservasi tanah) yang mungkin atau yang
sedang dilaksanakan (Arsyad, 1989). Prediksi erosi adalah alat bantu untuk
mengambil keputusan dalam perencanaan konservasi tanah pada suatu wilayah.
Pengaruh vegetasi penutup lahan terhadap erosi adalah melalui fungsi melindungi permukaan tanah dari tumbukan air hujan, menurunkan kecepatan aliran permukaan tanah dari tumbukan air hujan, merupakan kecepatan aliran permukaan, menahan partikelpartikel tanah pada tempatnya dan memperhatikan kemantapan kapasitas tanah dalam menyerap air. Konservasi tanah diartikan sebagai penempatan setiap bidang tanah pada cara penggunaan yang sesuai dengan kemampuan tanah tersebut dan memperlakukannya sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah. Sifat-sifat dan kimia tanah, dan keadaan topografi lapangan menentukan kemampuan untuk suatu penggunaan dan perlakuan yang diperlukan. Usaha-usaha konservasi tanah
ditujukan untuk (1) mencegah kerusakan tanah oleh erosi, (2) memperbaiki tanah yang rusak, (3) memelihara serta meningkatkan produktivitas tanah agar dapat dipergunakan secara lestari. Dengan demikian pelarangan penggunaan tanah, tetapi menyesuaikan macam penggunaannya dengan kemampuan tanah dan memberikan perlakuan sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan, agar tanah dapat berfungsi secara lestari.
1.2 Tujuan Praktikum
Mahasiswa dapat memahami dan mampu menghitung indeks erosivitas hujan dengan beberapa persamaan matematis : Rumus 1, Rumus 2, Rumus 3 dan Rumus 4.
2.1 Pengertian Erosivitas
Erosivitas hujan (R) adalah besarnya tenaga
kinetik hujan yang menyebabkan terlepas/terkelupas partikal tanah dari massa
tanah termasuk terangkutnya partika-partikal tanah ke tempat yang lebih rendah.
Factor erosiitas hujan merupakan hasil perkalian antara energy kinetik (E) dari
satu kejadian hujan maksimum 30 menit (El30).
Erosi adalah proses dua tahap yang terdiri dari penguraian massa
tanah menjadi partikel-partikel tunggal, serta pengangkutan partikelpartikel
tersebut oleh tenaga-tenaga erosi, seperti aliran air dan angin dari Morgan
(1977 dalam Taryono, 2000). Erosi merupakan proses geomorfologi, yaitu terlepas
dan terangkutnya material bumi oleh tenaga geomorfologi. Proses geomorfologi
tersebut tercakup dalam studi geomorfologi, yaitu ilmu yang mempelajari
bentuklahan (landform) secara genetik dan proses yang mempengaruhi bentuklahan
serta menyelidiki hubungan timbal balik antara bentuklahan dan proses-prose itu
dalam susunan keruangan dari Zuidam dan Zuidam Cancelado (1979 dalam Taryono,
2000). Erosi secara alamiah dikatakan tidak menimbulkan masalah, hal ini
disebabkan kecepatan erosinya relatif sama atau lebih rendah dari kecepatan
pembentukan tanah, erosi demikian disebut dengan erosi normal (erosi geologi).
Aktivitas manusia dalam beberapa bidang dapat mempercepat erosi, sehingga
timbul masalah, yang disebut erosi dipercepat (accelerated erosion). Akibat
dari erosi tersebut adalah :
a.)
merosotnya produktivitas tanah pada lahan yang tererosi, disertai merosotnya
daya dukung serta kualitas lingkungan hidup,
b.)
sungai, waduk, dan aliran irigasi/drainase di daerah hilir menjadi dangkal,
sehingga masa guna dan daya guna berkurang,
c.)
secara tidak langsung dapat mengakibatkan terjadinya banjir kronis pada setiap
musim penghujan dan kekeringan di musim kemarau (Arsyad, 1989) serta
d.)
dapat menghilangkan fungsi tanah menurut Suwardjo (1981 dalam Taryono, 1997).
Erosion adalah penghancuran dan pengangkutan lapisan tanah yang
merata tebalnya dari suatu permukaan bidang tanah. Kekuatan jatuh butirbutir
hujan dan aliran permukaan merupakan penyebab utama erosi lembar. Erosi alur
adalah erosi yang (rill erosion) yakni bentuk erosi yang terjadi karena aliran
permukaan terkonsentrasi dan mulai mengalir pada tempat-tempat yang relatif
peka di permukaan tanah, sehingga pemindahan tanah lebih banyak terjadi pada
tempat tersebut. Erosi parit (gully erosion) adalah bentuk erosi yang proses
terjadinya sama dengan erosi alur, akan tetapi alur yang terbentuk sudah
demikian lebar dan dalam, sehingga tidak dapat dicegah dengan cara pengolahan
tanah biasa. Adapun erosi sungai (stream erosion) terjadi sebagai akibat dari
bagian atas tebing oleh air yang mengalir dari bagian atas tebing dengan suatu
terpaan arus air yang kuat pada kelokan sungai maupun yang terjadi pada dasar
sungai.
2.2 Rumus Erosivitas
Pada model USLE, prakiraan besarnya besarnya
erosi adalah dalam kurun waktu tahunan sehingga angka rerata factor R dari data
curah hujan tahunan sebanyak mungkin dengan persamaan Bols (1987) dalam asdak (2010):
(Rm)
El30 = 6,119(CH)1,21X(P.Max)0,53…..(1)
Keterangan:
Rm =
Erosivitas curah hujan bulan rata-rata (rerata)
El30
= Erosivitas hujan rata-rata tahunan
CH =
Rerata curah hujan bulanan (cm)
HH =
Jumlah hari hujan perbulan (hari)
P.Max
= Curah hujan maksimum selama 24 jam pada bulan yang bersangkutan (cm)
Selain
dengan rumus 2, bahwa erosivitas hujan dapat pula dihitung dengan persamaan Utumo (1989) dengan rumus 2, lenvain (1989) rumus 3, dan Soemarwoto (1991) rumus 4 masing-masing
diuraikan sebagai berikut:
Rb =
10,80 + 4,15Hb…..(1)
Keterangan:
Rb =
Indeks Erosivitas
Hb =
Rerata CH bulanan (cm)
R =
2,21(Pb)1,36
Keterangan
:
R =
Indeks Erosivitas
Pb =
Rerata CH bulanan (cm)
R =
0,41 (H)1,09
Keterangan
:
R =
Indeks Erosivitas
H =
Rerata CH Tahunan (cm)
3.1
Waktu
dan Tempat
Waktu dilakukannya praktikum Konservasi Tanah dan
Air yaitu 6 Mei 2019 Pukul 13.30 – 15.10 WIB, bertempat di Ruangan J5, Jurusan
Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Palangka Raya.
3.2
Alat
dan Bahan
Alat
dan bahan yang diperlukan dan digunakan dalam Konservasi Tanah dan Air yaitu
meliputi alat tulis, kalkulator dan computer/laptop.
3.3
Prosedur
Kerja
a) Menentukan
Indeks Erosivitas hujan (R) bulanan dan tahunan dari data curah hujan harian
yang tersedia dalam lampiran panduan praktikum.
b) Melihat
spesifikasi data untuk kelompok 1 kelas B.
c) Menghitung
curah Indeks Erosivitas hujan (R) bulanan dan tahunan dari data curah hujan
harian dengan menggunakan rumus Bols (1981) dalam Asdak (2010) , Utumo (1989),
Lenvain (1989) dan Soemarwoto (1991).
d) Masukkan
semua data ke dalam rumus tersebut menggunakan excel ke dalam tabel pada
laptop/computer.
3.4
Pengolahan/Analisis
Data
Adapun pengolahan data
untuk menghitung curah Indeks Erosivitas hujan (R) bulanan dan tahunan dari
data curah hujan harian yang dilakukan yaitu menggunakan excel dengan rumus
yang sudah ditentukan yaitu dengan menggunakan rumus Bols (1981) dalam Asdak
(2010) , Utumo (1989), Lenvain (1989) dan Soemarwoto (1991).
Indeks Erosivitas Hujan Erosivitas hujan
adalah salah satu faktor yang menentukan dalam prakiraan besarnya erosi tanah.
Secara umum karakteristik curah hujan yang turun akan berpengaruh terhadap
jenis erosi yang terjadi di suatu tempat. Respon tanah terhadap curah hujan
ditentukan oleh keadaan meteorologi yang terjadi pada masa lalu di tempat
tersebut. Curah hujan, hari hujan, curah hujan maksimum, dan indeks erosivitas
hujan selama setahun disajikan pada Tabel 1. Tabel 1 menunjukkan
bahwa indeks erosivitas hujan tertinggi selama setahun terakhir adalah pada
bulan desember (73) dan terendah adalah pada bulan agustus (3). Jumlah hari
hujan terbanyak adalah 499,5 hari pada januari dan terendah sebanyak 11 hari pada september. Nilai tertinggi curah
hujan maksimum adalah 73 cm pada desember dan nilai terendah adalah 3 cm pada
agustus. Curah hujan tahunan, hari hujan, curah hujan maksimum, dan indeks
erosivitas hujan rata-rata berturut-turut adalah 2606 cm, 208 hari, 390 cm, dan
178,862. Curah hujan bulanan yang tinggi berkontribusi terhadap indeks
erosivitas hujan bulanan yang tinggi. Blanco dan Lal (2008) menyatakan bahwa
distribusi curah hujan tahunan berpengaruh terhadap erosivitas hujan. Mohammad
dan Abo-Ghobar (1992) menggambarkan suatu korelasi yang baik antara indeks
erosivitas dan jumlah curah hujan tahunan. (Karyati, 2005) Salako et al. (1995)
menjelaskan bahwa jumlah curah hujan yang kecil dan besar mampu menyebabkan
erosi tanah, sebab hujan sering turun dengan intensitas yang merusak dan
terdiri dari tetesan yang besar. Peranan lain dari angin topan dalam jumlah
yang kecil dan besar membuat erosivitas kumulatif dari hujan yang tinggi di
lokasi penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa resiko erosivitas
terbesar terjadi pada bulan Januari-Maret, November dan Desember seperti ditunjukkan
oleh nilai faktor R masingmasing sebesar 4,42, 3,71, 4,40, 4,04 dan 4,04 MJ mm
ha-1 h-1. Sedangkan Juni-September adalah bulan-bulan dengan faktor erosivitas
terendah, seperti ditunjukkan oleh faktor R masing-masing sebesar 0,88, 0,68,
0,32 dan 0,56 MJ mm ha-1 h-1.
Hujan
di daerah tropis bersifat lebih merusak daripada di wilayah iklim sedang
(temperate) karena keadaan angin yang bertiup kencang dan suhu yang tinggi.
Hujan di wilayah beriklim sedang berdistribusi seragam melintas musim, yang dikenal
sebagai unimodal, dan menyebabkan erosi yang kecil dibanding hujan yang lebat
di wilayah tropis, yang berdistribusi pada dua musin, dikenal sebagai bimodal
(Blanco & Lal, 2008). Erosivitas hujan meningkat dengan jumlah dan
intensitas (energi total) dari hujan selama angin topan terjadi (Unger, 2006).
Erosi air tidak akan terjadi jika hujan yang terjadi bersifat tidak erosif
(Blanco & Lal, 2008). Faktor yang mengendalikan proses sistem erosi tanah
adalah erosivitas hujan, erodibilitas tanah, panjang dan kemiringan lereng,
praktek penanaman, dan praktek konservasi (Atawoo & Heerasing, 1997;
Mohammad & Abo-Ghobar, 1992; Seta, 1987).
5.1
Kesimpulan
Indeks erosivitas hujan merupakan salah satu faktor
penting dalam memprediksi erosi tanah. Penaksiran indeks erosivitas curah hujan
tahunan sangat dipengaruhi oleh parameter-parameter curah hujan seperti curah
hujan tahunan, jumlah hari hujan tahunan, dan curah hujan maksimum. Informasi
tentang indeks erosivitas hujan berguna dalam perencanaan dan pelaksanaan
praktek teknologi konservasi tanah dan air.
5.2 Saran
Sebaiknya kita sebagai
mahasiswa perlu adanya melakukan penghitungan curah hujan tahuhan pada daerah
masing-masing, guna mengetahui erosivitas yang ada di daerah tersebut.
Arsyad,
1989. Hidrologi dan pengelolaan daerah aliran sungai. Gadjah Mada University
Press. Yogyakarta.
Atawoo, M.A. & Heerasing, J.M. 1997.
Estimation of soil erodibility and erosivity of rainfall patterns in Mauritius.
Food and Agricultural Research Council, Reduit, Mauritius. pp. 219-223.
Blanco, H. & Lal, R. 2008.
Principles of soil conservation and management. Springer. USA.
Karyati.
2005. Penaksiran indeks erosivitas hujan dan parameter-parameter curah hujan
yang mempengaruhinya di Kota Balikpapan Kalimantan Timur. Jurnal Rimba
Kalimantan. 10 (2): 98-102
Mohammad,
F.S. & Abo-Ghobar, H.M. 1992. Estimation of rainfall erosivity indices for
the Kingdom of Saudi Arabia. J. King Saud Univ. Agric. Sci. 4 (2): 189-204.
Setiarno, 2019. Penuntun praktikum
konservasi tanah dan air. Palangkaraya. Jurusan Kehutaan, Universitas
Palangkaraya.
Taryano,
1997. Konservasi sumberdaya tanah dan air. Kalam Mulia. Jakarta. 5 (2) : 29-34
Taryano, 2000. Konservasi sumberdaya
tanah dan air. Kalam Mulia. Jakarta. 5 (2) : 40-48
Unger,
P. W. 2006. Soil and water conservation handbook: Policies, practices,
conditions, and terms. Haworth Food & Agricultural Products Press. New
York.
Good job Astuti😁
ReplyDeleteterimakasih diani cantik
ReplyDeleteSemangat Astuti. Semoga Niat terus untuk menulis. 😂😂😂
ReplyDeleteSiap suhu ku wkwkwk😂😂
ReplyDelete