Laporan Praktikum Silvika INVENTARISASI HUTAN DI KAWASAN KAMPUS
1.1
Latar Belakang
Sekarang
ini sudah diterima secara umum bahwa kesejahteraan manusia, di mana saja,
bergantung kepada cara bagaimana mereka memanfaatkan sumberdaya alam. Fakta
cukup banyak untuk menunjukkan bahwa penyalahgunaan tanah dan perusakkan
sembarangan terhadap penutup hutan produktif telah mengambil bagian dalam
kejauhan dan kepunahan suatu peradaban secara keseluruhan. Di antara apa yang
disebut sumberdaya alam yang dapat diperbarui termasuk juga tanah, air, satwa
liar dan perikanan, hutan menempati posisi yang unik, karena selain hutan
tersebut merupakan penghasil tumbuh-tumbuhan yang hidup yang menyediakan bahan mentah
dan bahan bakar yang esensial untuk kesejahteraan manusia, juga mampu memberi
perlindungan kepada jenis sumberdaya lain, tetapi hutan itu juga dapat rusak
dan hancur oleh pemanfaatan yang tidak bijak dan oleh musuh-musuh alami. Jumlah
penduduk yang semakin bertambah dan begitu juga tuntutan akan standar hidup
yang lebih baik merupakan faktor yang menyebabkan meningkatnya permintaan pada
hasil-hasil hutan dan industri kehutanan, termasuk kertas, kayu bangunan, kayu
bakar, dan banyak yang lainnya yang dicerminkan di dalam pengurasan hutan yang
lebih berat. Perlindungan atas sumberdaya hutan menjadi semakin penting dan ini
mungkin dapat digalakkan melalui perlindungan dan perhatian kepada hutan-hutan
yang melingkupi gunung, mempengaruhi tata air dan memperbaiki lingkungan. Semua
faktor ini meningkatkan keharusan pengelolaan hutan yang lebih baik, dan
pengelolaan hutan yang baik tidak mungkin dicapai tanpa adanya Inventarisai
Hutan. Inventarisasi hutan biasanya dianggap sinonim dengan taksiran kayu. Di
dalam artian ini inventarisasi hutan adalah suatu usaha untuk menguraikan
kuantitas dan kualitas pohon-pohon hutan serta berbagai karakteristik areal
tanah tempat tumbuhnya. Perlu ditekankan, bahwa inventarisasi hutan harus
berisi pula evaluasi terhadap karakteristik-karakteristik pohon mampu terhadap
lahan tempat pohon-pohon itu tumbuh (Husch, B., 1987). Suatu inventarisasi
hutan lengkap dipandang dari segi penaksiran kayu harus berisi deskripsi areal
berhutan serta pemilikannya, penaksiran volume (parameter lain seperti berat)
pohon-pohon yang masih berdiri, dan penaksiran tambah-tumbuh dan pengeluaran
hasil. Dalam inventarisasi tertentu, dapat diberikan tekanan atau pembatasan
pada satu atau beberapa masalah tersebut, bergantung pada asas tujuan. Tetapi
untuk suatu penilaian yang menyeluruh terhadap suatu areal hutan dan terutama
bermaksud untuk mengelolanya berdasar asas hasil lestari, semua elemen itu
harus dikuasai. Selain elemen-elemen tersebut Simon H (2007) dalam bukunya
Metode Inventore Hutan menyebutkan bahwa secara garis besar elemen-elemen dalam
inventarisasi hutan dapat digolongkan menjadi tiga kelompok, yaitu :
1) Keadaan hutannya sendiri meliputi
luas areal, jenis dan komposisi, persebaran diameter pohon, keadaan
pertumbuhan, kerapatan atau kepadatan bidang dasar, sistem permudaan, kualitas
tegakan dan keadaan tumbuhan bawah.
2) Keadaan lahan hutan yang perlu
dicatat dalam inventore hutan misalnya topografi, jenis dan sifat-sifat tanah,
keadaan berbatu, air tanah dan sebagainya.
3) Keterangan lain meliputi
elemen-elemen di luar hutan dan kawasan hutan yang ikut menentukan atau
mempengaruhi nilai dan kualitas hutan juga perlu dicatat dalam inventore hutan
seperti iklim, aksesabilitas, industri dan perdagangan, tata guna lahan serta
keadaan sosial ekonomi masyarakat.
1.2 Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum Inventarisasi
Hutan adalah agar mahasiswa dapat mengetahui sekaligus memahami cara mengukur
atau menaksir potensi dari suatu tegakan hutan dalam hal pengukuran parameter
pohon. Kegunaan yang diharapkan dari praktikum ini adalah agar mahasiswa dapat
menambah wawasan sekaligus memahami tata cara pembuatan petak ukur, penentuan
arah jalur, penentuan jarak antar jalur dan pengukuran parameter pohon dalam
hal pengelolaan sumber daya hutan.
II. TINJAUAN
PUSTAKA
2.1 Pengertian Inventarisasi Hutan
Secara umum inventarisasi hutan
didefenisikan sebagai pengumpulan dan penyusunan data dan fakta mengenai
sumberdaya hutan untuk perencanaan pengelolaan sumberdaya tersebut bagi
kesejahteraan masyarakat secara lestari dan serbaguna (Departemen Kehutanan dan
Perkebunan, 1999). Inventarisasi hutan adalah suatu usaha untuk menguraikan
kuantitas dan kualitas pohon-pohon hutan serta berbagai karakteristik areal
tanah tempat tumbuhnya (Husch B., 1987). Inventarisasi hutan merupakan suatu
teknik mengumpulkan, mengevaluasi, dan menyajikan informasi yang terspesifikasi
dari suatu areal hutan karena secara umum hutan merupakan areal yang luas, maka
data biasanya dikumpulkan dengan kegiatan sampling (De Vries, 1986).
2.2
Pengertian Sampling dan Sistematik Sampling
Menurut Direktorat Bina Program
Kehutanan (1982) dalam Purwaningrum (2002) mengkaji bahwa sampling merupakan
tatanan cara dalam penarikan contoh yang metode pengukurannya hanya dilakukan
pada sebagian elemen dari populasi, tidak semua elemen dalam populasi diukur
atau dengan kata lain pendugaan karakteristik suatu populasi berdasarkan contoh
(sample) yang diambil dari populasi tersebut yang digunakan untuk memperoleh
nilai dugaan dari populasi yang sedang dipelajari. Sampling sistematik adalah
satu cara pengambilan sampel yang dilakukan dengan satu pola yang bersifat
sistematik (systematic pattern), yang telah ditentukan terlebih dahulu. Bentuk
pola tersebut bermacam-macam, bergantung pada tujuan inventore, waktu dan biaya
yang tersedia, serta kondisi populasi yang dihadapi (Simon H., 2007). Menurut
Sutarahardja (1997) bahwa metode sampling jalur sistematik merupakan suatu
metode yang ditentukan berdasarkan luas tertentu dari unit contohnya, yakni
berdasarkan dengan unit contoh berbentuk jalur yang terdistribusi secara
sistematik. Sistematik di sini diartikan bahwa jalur tersebar merata dengan
lebar jalur dan jarak antar jalur yang selalu tetap dari satu jalur ke jalur
lainnya. Line plot systematic sampling merupakan perkembangan dari continuous
strip sampling. Latar belakang penggunaan line plot sampling adalah untuk
menghemat waktu dan biaya pekerjaan pengukuran di lapangan, tetapi diharapkan
tidak mengurangi kecermatan sampling yang diperoleh (Simon H., 2007). Dalam
rancangan sampling jalur sistematik pemilihan jalur pertama secara acak (random
start) dan selanjutnya jalur di tempatkan secara sistematik. Adanya pengambilan
contoh secara sistematik dengan awal acak ini sangatlah tepat karena untuk
memperkecil kekurangan sistematik sampling, maka jalan keluarnya adalah dengan
mengkombinasikan metode sistematik sampling dengan metode random sampling (FAO,
1978 dalam Eddy, 2001).
2.3
Pengertian Populasi dan Sampel
Dalam statistik populasi merupakan
kumpulan individu yang jumlahnya dapat terbatas (finite) atau tak terhingga
(infinite), misalnya populasi hutan terdiri atas pepohonan, semak belukar, dan
satwa yang hidup di atas lahan tertentu (Simon H., 2007). Populasi ialah semua
nilai baik hasil perhitungan maupun pengukuran, baik kuantitatif maupun
kualitatif, daripada karakteristik tertentu mengenai sekelompok objek yang
lengkap dan jelas. Populasi terdiri atas populasi terbatas dan tak terbatas.
Populasi dapat bersifat homogeny dan heterogen (Usman, H., 2008). Teken (1974)
dan Soediono (1976) mengatakan bahwa populasi merupakan kumpulan dari
individu-individu yang sifatnya akan diukur atau ditaksir dalam suatu
penelitian. Menurut Cochran (1963), populasi digunakan untuk menyatakan
kumpulan dari mana contoh diambil, sedangkan Husch (1971) mengatakan populasi
merupakan kumpulan keseluruhan anggota dan individu yang akan diteliti atau
dipelajari. Ditinjau dari banyak anggotanya, populasi dapat dibedakan atas
populasi tak terhingga dan populasi terhingga (Nasution, 1970; Husch, 1971;
Sudjana, 1974). Sampel merupakan bagian populasi yang secara statistik dianggap
refresentatif untuk mewakili karakteristik atau menggambarkan parameter
populasi tersebut (Simon H., 1996). Schumacher (1942), Cochran (1963) dan
Soediono (1976) mengatakan bahwa contoh adalah wakil atau sebagian individu
dalam populasi. Besarnya anggota sampel yang dipilih berdasarkan
pertimbangan-pertimbangan seperti praktis, ketepatan, nonresponden dan analisi
data. Teknik untuk menghitung besarnya anggota sampel secara umum dapat
dilakukan dengan dua cara yaitu cara proporsi dan ketelitian estimasi (Usman,
H., 2008). Menurut Nasoetion (1970), contoh adalah bagian dari populasi yang
digunakan guna pengamatan atau penyelidikan. Contoh ini merupakan suatu irisan sifat
populasi, haruslah keseluruhan anggota contoh yang terpilih mencerminkan
keadaan populasi sewajarnya. Pengambilan contoh menurut Teken (1965), dilakukan
atas pertimbangan biaya waktu dan tenaga yang tersedia dalam suatu penelitian.
Menurut Mubyarto (1976), pengambilan contoh dilakukan atas pertimbangan
sumberdaya yang terbatas, keterbatasan data dan pengujian yang sifatnya
merusak.
2.4
Pengertian Pengambilan Sampel (Contoh)
Pengambilan contoh adalah suatu cara
untuk menaksir sifat-sifat dari suatu kumpulan individu atau populasi dengan
jalan mengamati sebagian daripada kumpulan individu tersebut (Sukhatme, 1963).
Pengambilan contoh bertujuan untuk menaksir sifat dari populasi dengan suatu
ketelitian tertentu ( Spure, 1952). Menurut Soediono (1976) pengambilan contoh
adalah cara untuk menaksir nilai atau keadaan populasi dengan jalan mengambil
dan mengamati sebagian dari individu dalam populasi sebagai wakil yang disebut
contoh. Dalam hal ini nilai taksiran yang diperoleh dari pengamatan contoh
dipergunakan sebagai taksiran nilai populasi. Alasan yang dipergunakan untuk
pengambilan contoh antara lain (Cochran, 1963) :
1. Sulit untuk mengamati seluruh populasi ;
2. Dengan pengambilan contoh, pengamatan menjadi lebih muda
dan biaya yang diperlukan relatif menjadi kecil ;
3. Waktu yang dipergunakan relatif lebih singkat ;
4. Sasaran lebih besar dan lebih teliti. Menurut Atmawidjaja
(1960), pengambilan contoh di dalam kehutanan banyak dipergunakan untuk
inventarisasi hutan seperti penaksiran pertumbuhan dan permudaan suatu tegakan.
Pengambilan contoh bila ditinjau dari penyebaran unitnya dapat digolongkan
menjadi dua golongan besar yaitu cara pengambilan contoh acak dan sistematik
(Husch, 1963). Cochran dan Sukhatme (1963) mengatakan bahwa yang dimaksud
dengan pengambilan contoh sistematik adalah bila pengambilan pemilihan unit
contohnya dilakukan menurut cara atau pola khusus yang telah ditetapkan
terlebih dahulu. Pengambilan contoh sistematik merupakan cara pengambilan
contoh yang relatif lebih muda dalam pelaksanaan pekerjaan di lapangan bila
dibanding dengan cara-cara lain yang biasa digunakan, antara lain pengambilan
contoh acak sederhana dan pengambilan contoh acak berlapis (Soediono dan Komar,
1976). Di Indonesia, pengambilan contoh yang dianjurkan oleh Direktorat
Inventarisasi dan Perencanaan Kehutanan (1967) dengan alasan berdasarkan
pertimbangan kondisi yang dihadapi adalah pengambilan contoh dengan jalur yang
lebarnya 10 atau 20 meter atau petak ukur lingkaran berjalur dengan luas 0,1
hektar.
2.5
Pengertian Petak Ukur
Bentuk petak ukur yang lazim
digunakan dalam inventore hutan adalah bentuk petak ukur persegi panjang, bujur
sangkar, jalur dan lingkaran. Digunakannya petak ukur dalam kehutanan
disebabkan karena hutan bukan semata-mata sebagai kumpulan dari pohon,
melainkan merupakan suatu asosiasi dari flora dan fauna di suatu wilayah yang
cukup luas, mulai dari mikroorganisme sampai tumbuhan berbunga dan binatang
menyusui (Madyana Th.,1989). Di kehutanan khususnya dalam inventarisasi hutan,
bentuk petak ukur dapat dibagi menjadi dua bagian berdasarkan kegunaannya. Menurut
Spure (1952) petak ukur yang dimaksud adalah :
1. Petak ukur tidak permanen (temporary sample plot) : Petak
ukur ini biasanya dipergunakan untuk menghitung atau menaksir volume tegakan,
dan
2. Petak ukur permanen (permanent sample plot) : Petak ukur ini
biasanya dipergunakan untuk menghitung atau mengukur pertumbuhan volume
tegakan.
2.6
Pengertian Parameter dan Parameter Pohon
Parameter adalah ciri suatu
populasi, seperti harga rata-rata populasi atau simpangan baku populasi.
Kecermatan adalah bagaimana dekatnya harga suatu pengukuran atau pengamatan
terhadap harga yang sebenarnya. Bias merupakan kesalahan-kesalahan sistematik,
seperti kesalahan-kesalahan yang semuanya pada arah yang sama tinggi atau
rendah (Paine P.D., 1992). Diameter merupakan salah satu parameter pohon yang
mempunyai arti penting dalam pengumpulan data tentang potensi hutan untuk
keperluan pengelolaan. Dengan keterbatasan alat yang tersedia, seringkali
pengukuran keliling (K) lebih banyak dilakukan, baru kemudian dikonversi ke diameter
(D), dengan menggunakan rumus yang berlaku untuk lingkaran yaitu D = k/π (Kadri
Wartono Ir., DKK, 1992). Spure (1952) menyatakan bahwa diameter pohon yang
dekat dengan permukaan tanah adalah dasar dari pengukuran pohon. Diameter
merupakan parameter yang berkorelasi dengan volume pohon dan dapat diukur
secara akurat dan pengukuran dalam areal yang luas memerlukan biaya yang murah.
Tinggi pohon merupakan parameter lain yang mempunyai arti penting dalam
penaksiran hasil hutan. Bersama diameter, tinggi pohon diperlukan untuk
menaksir volume dan riap. Secara khusus tinggi pohon dapat dihubungkan dengan
umur hutan tanaman untuk menentukan kelas kesuburan tanah (bonita) (Simon H.,
1996). Secara alami volume kayu dapat dapat dibedakan menurut berbagai macam klasifikasi
sortimen. Jenis sortimen kayu yang lazim dipakai sebagai dasar penaksiran ada
lima macam, yaitu volume kayu tunggak, kayu batang komersil, kayu cabang
komersial, kayu batang non-komersial dan kayu ranting (Simon H., 2007). Volume
dari sebatang pohon dapat ditaksir dengan menggunakan suatu tabel volume. Tabel
volume ini disusun berdasarkan suatu persamaan yang menggambarkan hubungan
antara beberapa dimensi pohon yang mudah untuk diukur dengan volume pohon
tersebut (Loetsch, Zofrer dan Haller, 1973). Tabel volume merupakan pernyataan
yang sistematis mengenai volume sebatang pohon menurut semua atau sebagian
dimensi yang ditentukan dari diameter setinggi dada, tinggi, dan bentuk pohon
(Husch, 1987).
III.
METODE PRAKTIKUM
3. 1 Waktu dan tempat
Praktikum Inventarisasi Hutan
mengenai pengukuran Potensi Tegakan Hutan (parameter pohon) pada areal hutan
kampus kehutanan, dilaksanakan pada Hari Minggu 29 mei 2011, bertempat di
Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Palangka Raya.
3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum
Inventarisasi Hutan adalah sebagai berikut :
ü Meteran Roll
ü Parang
ü Pita Ukur
ü Alat
Tulis Menulis
ü Tally Sheet
ü Tali Rafia
3.3 Cara kerja
· Pertama-tama kita menentukan plot
dengan ukuran 20 m x 20 m untuk menganalisis tingkat pohon, 10mx10m untuk
tingkat tiang, 5m x 5m untuk tingkat panacang, dan 2m x 2m untuk tingkat semai.
· Kemudian untuk plot berukuran 20m
x 20m kita mengukur keliling pohon satu persatu untuk menentukan diameter pohon
tersebut nantinya.
· Pohon yang telah diukur
diameternya, diberi label gantung. Setelah itu dlakukan pengukuran tinggi bebas
cabang pohon dan tinggi total pohon. Dengan menggunakan alat hagameter.
· Untuk melakukan pengukuran TBC dan
TT pohon pertama-tama kita menentukan jarak antara pengukur dan pohon yang akan
diukur.
· Setelah itu kita mengukur tinggi
mata pengamat dari ujung kaki sampai ke mata pengamat/pengukur. · Setelah itu
kita membidik TBC dan TT pohon antara mata pengukur dengan TBC ataupun TT
pohon, untuk menentukan berapa besar sudut yang terbentuk dengan menggunakan
alat hagameter.
· Setelah dilakukannya pengukuran
pada plot 20m x 20m untuk tingkat pohon, kita menganalisis tingkat tiang pada
plot yang berukuran 10 m x 10 m. Pengukuran yang dilakukan sama perlakuannya
dengan tingkat pohon, hanya saja pengukuran yang dilakukan hanya pada tingkat
tiang, begitupun pengukuran yang dilakukan pada tingkat pancang pada plot yang
berukuran 5m x 5m.
· Untuk tingkat semai penkuran yang
dilakukan hanya menentukan berapa tinggi dar semai tersebut pada plot dengan
ukuran 2m x 2m.
· Semua hasil data dilapangan
dicatat pada tali sheet, dan kita perlu menggambar skema pengkuran kita.
3.4
Analisis Data
Berdasarkan
data lapangan yang telah dikumpulkan, maka dilakukan analisis kuantitatif
dengan menggunakan perhitungan Matematis-Statistika dengan rumus sebagai
berikut :
a. Volume rata-rata pada petak ukur
:
b. Ragam (Varians) :
c. Simpangan Baku (standar deviasi)
:
d. Galat Baku (Standard error) :
atau
e. Kesalahan Pengambilan Contoh
(Sampling Error) :
f. Tingkat kecermatan : P = x 100%
g. Konviden Interval (Selang
Kepercayaan) :
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan, maka
diperoleh hasil perhitungan parameter pohon hutan Alam Desa Labuan Kunguma pada
petak ukur (plot) 4 dengan ukuran 20 m x 20 m .
Tabel
1.
Data hasil perhitungan parameter pohon pada plot 4
berdasarkan data yang diperoleh dari lapangan. No. Jenis Pohon Keliling (cm)
Diameter (cm) TBC (m) Tinggi total (m) Vi (m3) Vi2 (m3) 1 2 3 4 5 6 pohon 1
pohon 2 pohon 3 Tiang 1 Pancang 1 Pancang 2 98 150 92 35 13 15 31,210 47,770
20,38 11,15 4,14 4,77 11,5 15,8 18,14 - 20,30 27,77 18,14 11,88 4,3 5,0 1,079
3,709 0,838 0,081 0,039 0,491 1,164 13,756 0,702 0,006 0,001 0,241 ∑ - - - - -
6,237 15,24 Perhitungan Volume Rata-rata Pohon pada Plot 4 : 1. Pohon Jenis 1 :
V = V =( = 0,076 x 20,30 x 0,7 = 1,079 m3. 2. Pohon Jenis 1 : V = V = ( =
0,178x 29,77 x 0,7 = 3,709 m3. 3. Pohon Jenis 1 : V = V ( = 0,066 x 18,14 x 0,7
= 0,838m3. Volume rata-rata pohon : = = 1,875 m3. 4. Tiang Jenis 1: V = V (
=0,0098x 11,88 x 0,7 = 0,081 m3. 5. Pancang Jenis 2 : V = V = ( = 0,0013 x 4,3
x 0,7 = 0,039m3. 6. Pancang Jenis 2 : V = V = ( = 0,0018 x 5,0 x 0,7 = 0,006
m3. Volume rata-rata pancang : = = 0,022 m3. Keterangan : d = Diameter pohon t
= Tinggi total pohon fk = Faktor koreksi n = Jumlah pohon (8 pohon) Tabel 2.
Data hasil perhitungan volume pohon dari plot 1 sampai plot 12 dengan
menggunakan 2 angka terakhir dari nomor stambuk. Nomor Plot (Data/kelompok)
Volume Data Sebenarnya (asli) Data Stambuk Vi (m3) Vi2 (m3) Vi (m3) Vi2 (m3)
Ganjil 1 Ganjil 2 Ganjil 3 Ganjil 4 Ganjil 5 Ganjil 6 Ganjil 7 Ganjil 8 Genap 1
Genap2 Genap 3 Genap 4 Genap 5 Genap 6 Genap 7 Genap 8 0,331 2,336 3,055 3,157
0,645 2,360 5,563 1,875 6,532 0,037 6,841 0,257 0,132 0,175 0,444 0,002 0,109
5,456 9,333 9,966 0,416 5,570 30,947 3,448 42,667 0,001 42,003 0,066 0,017
0,031 0,197 0,000 0,383 2,383 3,083 3,183 0,683 2,383 5,583 1,883 6,583 0,083
6,883 0,283 0,183 0,183 0,483 0,083 0,146 5,678 9,504 10,131 0,466 5,678 31,169
3,545 43,335 0,007 47,375 0,080 0,033 0,033 0,232 0,007 ∑ 27,210 34,328 157,429
Keterangan : No. stambuk = L 131 09 083 n = Jumlah petak ukur = 16 Petak ukur N
= Luasan keseluruhan = 16.800 m2. Analisis Data pada Plot 1-16 dengan
Menggunakan Nomor Stambuk a. Volume rata-rata pohon : = = 2,145 m3. b.
Perhitungan Ragam (Varians) : S2 = = = = = 5,585 m3 c. Perhitungan Simpangan
Baku (Standar Deviasi) : S = = = 2.363 m3. d. Perhitungan Galat Baku (Standar
Error) : = 0,589 m3. e. Kesalahan Pengambilan Contoh (Sampling Error) : = 0,05
; n-1. = 2,131 (0,589) = 1,255 m3 f. Tingkat Kecermatan : P = x 100% = x 100% =
27,45 %. g. Konviden Interval (Selang Kepercayaan) : = 0,589 ± 1,255 = 0,589 –
1,255 = - 0,666 m3/ha = 0,589 + 1,255 = 1,844 m3/ha. h. Biomassa Biomassa =
0,111 x DBH 2,532 = 0,111 x 1,32,532 = 0,111 x 1,943 = 0,216 i. Carbon Carbon =
0,5 x Biomassa = 0,5 x 0,216 = 0,108 4.2 Pembahasan Hutan merupakan salah satu
sumberdaya alam bagi bangsa Indonesia yang dapat menunjang kehidupan bangsa.
Selain itu, hutan merupakan sumberdaya alam yang dapat diperbaharui, memiliki sifat
yang unik sebab mempunyai sifat ganda, antara lain sebagai sumber produksi dan
berfungsi sebagai pelindung selama hutan terjamin keadaannya dari pemanfaatan
yang tidak berencana dan dari bencana alam. Agar pemanfaatan hasil hutan
sebagai sumberdaya alam dapat dirasakan secara baik, maka diperlukan suatu
manageman yang baik terhadap hutan dan dan hasil hutan tersebut. Hal ini dapat
dilaksanakan berdasarkan perencanaan dan data hasil inventarisasi yang baik
dengan ketelitian yang dipakai dalam metode inventarisasu hutan tersebut.
Kawasan hutan Desa Labuan Kunguma merupakan kawasan hutan alam yang wilayahnya
cukup luas, oleh karena itu diperlukan suatu pengamatan potensi tegakan hutan.
Dan untuk mengetahui potensi tegakan tersebut maka diadakan inventarisasi hutan
dengan melakukan pengamatan, pengukuran, dan penaksiran dari sampel (contoh)
yang diambil. Dalam inventarisasi hutan yang dilaksanakan di hutan alam Desa
Labuan Kunguma digunakan metode jalur berpetak sistematik (line plot sistematik
sampling) yang terdiri dari 4 jalur dan16 petak ukur yang masing-masing jalur
berisi 4 petak ukur, dengan ukuran jarak antar jalur 20 meter, jarak antar
petak ukur 20 meter, dan ukuran petak ukur 20 m x 20 m. Luasan keseluruhan dari
petak ukur adalah 16.800 m2. Inventarisasi hutan merupakan suatu teknik
mengumpulkan, mengevaluasi, dan menyajikan informasi yang terspesifikasi dari
suatu areal hutan karena secara umum hutan merupakan areal yang luas, maka data
biasanya dikumpulkan dengan kegiatan sampling (De Vries, 1986). Hasil dari
kegiatan inventarisasi hutan dapat digunakan sebagai acuan untuk melakukan atau
menetapkan suatu areal atau kawasan hutan, perencanaan pengelolaan sumberdaya
hutan agar diperoleh kelestarian hasil, penyusunan neraca sumberdaya hutan, dan
penyusunan rencana kebutuhan dan sistem informasi kehutanan. Sampling
sistematik adalah satu cara pengambilan sampel yang dilakukan dengan satu pola
yang bersifat sistematik (systematic pattern), yang telah ditentukan terlebih
dahulu. Bentuk pola tersebut bermacam-macam, bergantung pada tujuan inventore,
waktu dan biaya yang tersedia, serta kondisi populasi yang dihadapi (Simon H.
2007). Menurut Sutarahardja (1997) bahwa metode sampling jalur sistematik
merupakan suatu metode yang ditentukan berdasarkan luas tertentu dari unit
contohnya, yakni berdasarkan dengan unit contoh berbentuk jalur yang
terdistribusi secara sistematik. Sistematik di sini diartikan bahwa jalur
tersebar merata dengan lebar jalur dan jarak antar jalur yang selalu tetap dari
satu jalur ke jalur lainnya. Bentuk petak ukur yang lazim digunakan dalam
inventore hutan adalah bentuk petak ukur persegi panjang, bujur sangkar, jalur
dan lingkaran. Digunakannya petak ukur dalam kehutanan disebabkan karena hutan
bukan semata-mata sebagai kumpulan dari pohon, melainkan merupakan suatu
asosiasi dari flora dan fauna di suatu wilayah yang cukup luas, mulai dari
mikroorganisme sampai tumbuhan berbunga dan binatang menyusui (Madyana
Th.,1989). Dalam inventarisasi hutan dikenal beberapa istilah yang digunakan dalam
melakukan pengukuran dan penaksiran potensi suatu tegakan yaitu populasi,
sampel (contoh), dan parameter. Menurut Cochran (1963), populasi digunakan
untuk menyatakan kumpulan dari mana contoh diambil, sedangkan Husch (1971)
mengatakan populasi merupakan kumpulan keseluruhan anggota dan individu yang
akan diteliti atau dipelajari. Sampel merupakan bagian populasi yang secara
statistik dianggap refresentatif untuk mewakili karakteristik atau
menggambarkan parameter populasi tersebut (Simon H., 1996). Sedangkan parameter
adalah ciri suatu populasi, seperti harga rata-rata populasi atau simpangan
baku populasi (Paine P.D., 1992). Diameter merupakan salah satu parameter pohon
yang mempunyai arti penting dalam pengumpulan data tentang potensi hutan untuk
keperluan pengelolaan. Dengan keterbatasan alat yang tersedia, seringkali
pengukuran keliling (K) lebih banyak dilakukan, baru kemudian dikonversi ke
diameter (D), dengan menggunakan rumus yang berlaku untuk lingkaran yaitu D =
k/π (Kadri Wartono Ir., DKK, 1992). Pengukuran keliling dan diameter pohon
merupakan pengukuran parameter pohon yang mempunyai peran penting dalam
melakukan pengambilan dan pengumpulan data potensi suatu tegakan hutan yang
digunakan untuk keperluan pengelolaan hutan dan sumberdaya hutan agar diperoleh
kelestarian hasil dari sumberdaya hutan tersebut. Pengukuran keliling dan
diameter pohon dilakukan pada ketinggian 1,3 meter dari pangkal pohon di atas
permukaan tanah atau dikenal dengan pengukuran diameter setinggi dada (dbh).
Gambar 2. Pengkuran diameter setinggi dada (dbh). Selain pengukuran keliling
dan diameter, tinggi pohon juga merupakan variabel dari parameter pohon yang
mempunyai arti yang tak kalah pentingnya dalam melakukan pengukuran dan
penaksiran potensi tegakan hutan dan hasil hutan. Tinggi pohon merupakan
parameter lain yang mempunyai arti penting dalam penaksiran hasil hutan.
Bersama diameter, tinggi pohon diperlukan untuk menaksir volume dan riap.
Secara khusus tinggi pohon dapat dihubungkan dengan umur hutan tanaman untuk menentukan
kelas kesuburan tanah (bonita) (Simon H., 1996). Dalam inventarisasi hutan
biasanya dikenal beberapa macam tinggi yaitu tinggi total, tinggi batang bebas
cabang, tinggi batang komersil dan tinggi tunggak. Dalam kegiatan praktikum
inventarisasi hutan di hutan alam Desa Labuan Kunguma variable tinggi pohon
yang diamati adalah tinggi batang bebas cabang dan tinggi total pohon. Tinggi
batang bebas cabang yaitu tinggi pohon dari pangkal batang di permukaan tanah
sampai cabang pertama, sedangkan tinggi total yaitu tinggi dari pangkal pohon
di permukaan tanah sampai puncak pohon (Simon H., 2007). Gambar 3. Pengukuran
tinggi batang batang bebas cabang dan tonggi total pohon. Pengukuran keliling,
diameter dan tinggi pohon merupakan data inventarisasi yang diperoleh langsung
di lapangan. Setelah data-data tersebut terkumpul selanjutnya akan dilakukan
analisis data untuk mendapatkan hasil perhitungan volume dari setiap pohon
sampel pada masing-masing petak ukur dan perhitungan volume rata-rata dari
semua pohon sampel pada keseluruhan petak ukur. Agar hasil yang diperoleh dari
perhitungan volume pohon dapat memberikan keyakinan bagi si penaksir maka
diperlukan analisis data yang lain berupa perhitungan ragam (varians),
simpangan baku (standar deviasi), galat baku (standard error), kesalahan
pengambilan contoh (sampling error), tingkat kecermatan dan konviden interval
(selang kepercayaan). Volume merupakan salah parameter yang paling penting
dalam melakukan inventarisai hutan secara obyektif. Dalam menentukan volume
dari sebatang pohon yang ditaksir maka digunakan suatu tabel volume. Tabel
volume disususn berdasarkan suatu persamaan yang menggambarkan hubungan antara
beberapa parameter pohon yang mudah untuk diukur dengan volume pohon tersebut.
Dalam melakukan penyusunan tabel volume diperlukan perhitungan volume pohon
yang masih berdiri untuk menentukan hubungan volume dengan parameter pohon
lainnya seperti keliling, diameter, dan tinggi pohon. Secara alami volume kayu
dapat dapat dibedakan menurut berbagai macam klasifikasi sortimen. Jenis
sortimen kayu yang lazim dipakai sebagai dasar penaksiran ada lima macam, yaitu
volume kayu tunggak, kayu batang komersil, kayu cabang komersial, kayu batang
non-komersial dan kayu ranting (Simon H., 2007). Pada dasarnya ada dua macam
cara untuk menaksir volume kayu yaitu penaksiran secara langsung dan tidak
langsung. Penaksiran secara tidak langsung dilakukan dengan menggunakan tabel
volume sedangkan dengan cara langsung dilakukan dengan mengukur parameter
individu pohon di lapangan, kemudian dihitung volumenya dengan menggunakan
metode rumus analisis data kuantitatif (matematis-statistik). Dalam penaksiran
volume pohon yang masih berdiri seluruhnya hanya dapat dilakukan secara
langsung dengan ketinggian 2 meter, selebihnya harus menggunakan taksiran. Pada
pelaksanaan praktikum yang pertama kali dilakukan adalah menentukan jalur dan
jarak antar jalur dengan menggunakan alat meteran roll, selanjutnya jika jalur
telah ditentukan kemudian menetukan arah jalur dengan menggunakan kompas bidik.
Selanjutnya membuat petak ukur dengan ukuran 20 m x 20 m. Setelah petak ukur
dibuat selanjutnya mengamati dan menghitung jumlah pohon yang akan dijadikan
sampel, pada plot 11 terdapat 8 pohon sampel yang masing-masing akan dilakukan
pengukuran dan penaksiran pada parameter pohon tersebut. Setelah pohon tersebut
diamati langkah selanjutnya menghitung diameter setinggi dada (dbh) pohon
sampel pada ketinggian 1,3 meter dari pangkal pohon di atas permukaan tanah.
Selanjutnya parameter pohon yang akan diamati adalah tinggi total pohon dan
tinggi bebas cabang dengan menggunakan alat Hagameter. Setelah pengamatan dan
pengukuran parameter pohon selesai, kemudian langkah selanjutnya adalah
mengumpulkan data-data dari pengamatan parameter pohon tersebut. Setelah
data-data tersebut dikumpulkan kemudian melakukan perhitungan analisis data
untuk mengetahui volume dari masing-masing pohon dan volume rata-rata dari
keseluruhan pohon yang terdiri dari 12 petak ukur. Dari analisis data yang
dilakukan diperoleh hasil perhitungan volume rata-rata dari keseluruhan pohon
yang terdiri dari 16 petak ukur dengan menggunakan 2 (dua) angka terakhir dari
nomor stambuk adalah sebesar 0,2949 m3. Sedangkan hasil perhitungan volume
rata-rata dengan data sebenarnya adalah sebesar 0,2981 m3 seperti yang
disajikan pada lampiran 3. Untuk analisis data ragam (varians), perhitungan
simpangan baku (standar deviasi), perhitungan galat baku (standar error),
kesalahan pengambilan contoh (sampling error), tingkat kecermatan, dan konviden
interval (selang kepercayaan) dengan menggunakan 2 angka terakhir pada nomor
stambuk adalah masing-masing sebagai berikut : Ragam (varians) = 5,585 m3.
Simpangan baku (standar deviasi) =2,363m3. Galat baku (standar error) = 0,589
m2. Kesalahan pengambilan contoh (sampling error) = 1,255 m3. Tingkat
kecermatan = 27,45 %. Konviden interval (selang kepercayaan) = 0,666 1,844
m3/ha. Biomasaa = 0,216 Carbon = 0,108 Sedangkan dengan menggunakan data
lapangan atau data sebernanya diperoleh hasil sebagai berikut (terdapat pada
lampiran 3) : Ragam (varians) = 3,872 m3. Simpangan baku (standar deviasi) =
1,968 m3. Galat baku (standar error) = 0,0842m3. Kesalahan pengambilan contoh
(sampling error) = 0,1794 m3. Tingkat kecermatan = 4,95 %. Konviden interval
(selang kepercayaan) = 1,5036 1,8984 m3/ha. Biomasaa = 0,216 Carbon = 0,108
V. PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan
dari pelaksanaan praktikum, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Inventarisasi hutan merupakan suatu teknik mengumpulkan,
mengevaluasi, dan menyajikan informasi yang terspesifikasi dari suatu areal
hutan karena secara umum hutan merupakan areal yang luas, maka data biasanya
dikumpulkan dengan kegiatan sampling.
2. Sampling merupakan tatanan cara dalam penarikan contoh
yang metode pengukurannya hanya dilakukan pada sebagian elemen dari populasi,
tidak semua elemen dalam populasi diukur atau dengan kata lain pendugaan
karakteristik suatu populasi berdasarkan contoh (sample) yang diambil dari
populasi tersebut yang digunakan untuk memperoleh nilai dugaan dari populasi
yang sedang dipelajari.
3. Sampling sistematik adalah satu cara pengambilan sampel
yang dilakukan dengan satu pola yang bersifat sistematik (systematic pattern),
yang telah ditentukan terlebih dahulu. Bentuk pola tersebut bermacam-macam,
bergantung pada tujuan inventore, waktu dan biaya yang tersedia, serta kondisi
populasi yang dihadapi.
4. Line plot systematic sampling merupakan perkembangan dari
continuous strip sampling. Latar belakang penggunaan line plot sampling adalah
untuk menghemat waktu dan biaya pekerjaan pengukuran di lapangan, tetapi
diharapkan tidak mengurangi kecermatan sampling yang diperoleh.
5. Bentuk petak ukur yang lazim digunakan dalam inventore
hutan adalah bentuk petak ukur persegi panjang, bujur sangkar, jalur dan
lingkaran. Di kehutanan khususnya dalam inventarisasi hutan, bentuk petak ukur
dapat dibagi menjadi dua bagian berdasarkan kegunaannya yaitu petak ukur tidak
permanen (temporary sample plot) dan petak ukur permanen (permanent sample
plot).
6. Dalam melakukan pengukuran atau penaksiran potensi suatu
tegakan hutan, ada beberapa variabel yang penting dari parameter pohon yang
harus diamati yaitu keliling dan diameter, tinggi batang bebas cabang, tinggi
total pohon, dan pengukuran atau perhitungan volume dan volume rata-rata pohon
sampel.
7. Perhitungan volume dan volume rata-rata pohon sampel
diperoleh dengan menggunakan rumus :
a. Volume pohon : V =
b. Volume rata-rata pohon sampel : Dimana : V = Volume pohon
= Volume rata-rata pohon = 3,14 d = Diameter pohon ( d = ) t = Tinggi total
pohon fk = Faktor koreksi (0,7) n = Jumlah pohon atau petek ukur 8. Agar hasil
dari inventarisasi hutan dapat memberikan keyakinan bagi si penaksir maka harus
dilakukan analisis data lainnya seperti perhitungan ragam, simpangan baku,
galat baku, kesalahan pengambilan contoh, tingkat kecermatan, dan konviden
interval. Dengan menggunakan rumus : a. Ragam : S2 = b. Simpangan baku : S = c.
Galat baku : d. Kesalahan pengambilan contoh : e. Tingkat kecermatan : P = x
100% f. Konviden interval : 9. Dari hasil pelaksanaan praktikum Inventarisasi
Hutan di hutan alam Desa Labuan Kunguma dapat diketahui potensi tegakan
hutannya dengan memperhitungkan volume rata-rata pohon sampel adalah sebesar
2,145 m3 (perhitungan dengan menggunakan nomor stambuk), ragam sebesar 5,585
m3, simpangan baku 2,363 m3, galat baku 0,589 m3, kesalahan pengambilan contoh
1,255 m3, tingkat kecermatan 27,45 %, konviden interval 0,666 1,844 m3/ha.
5.2 Saran
Untuk
kelancaran praktikum berikutnya sebaiknya fasilitas seperti alat dan bahan yang
digunakan dalam praktikum lebih dilengkapi agar hasil yang diperoleh dalam
pengambilan data lebih maksimal dan kesalahan dalam pengambilan data juga dapat
berkurang. Selain itu agar praktikum dapat berjalan dengan maksimal sebaiknya
disediakan penuntun praktikum bagi praktikkan.
Sumber: http://forester-untad.blogspot.com/2015/02/laporan-lengkap-inventrisasi-hutan.htm
Sumber: http://forester-untad.blogspot.com/2015/02/laporan-lengkap-inventrisasi-hutan.htm

Comments
Post a Comment