LAPORAN KEHUTANAN MASYARAKAT




I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hutan merupakan suatu kesatuan ekosistem yang didalamnya terdapat berbagai jenis keanekaragaman hayati. Keanekaragaman hayati merupakan keanekaragaman organisme yang menunjukkan keseluruhan variasi dari gen, jenis dan ekosistem pada suatu wilayah. Keanekaragaman hayati melingkupi berbagai perbedaan atau variasi bentuk, penampilan, komposisi jumlah serta sifat-sifat yang terlihat dari tingkat terkecil yakni gen sampai dengan tingkat terbesar yaitu ekosistem.
Keanekaragaman yang paling mudah untuk dikenali salah satunya adalah keanekaragaman tingkat jenis baik itu flora maupun fauna. Keanekaragaman ini salah satunya dapat dipengaruhi oleh tipe lingkungan. Dari jenis fauna atau hewan yang lingkungan hidupnya di tanah memiliki ukuran yang beranekaragam oleh karena itu terdapat penggolongan didalamnya.
Di dalam bidang kehtanan, tingkat kerusakan hutan oleh serangga sangatlah tinggi. Kerusakan ini mencapai keseluruhan tanaman kehutanan baik dilapangan maupun didalam penyimpanan kerusakan yang disebabkan serangga hama dapat mempengaruhi hasil dari pengusahaan hutan atau pertumbuhan dan hasil hutan.
Pengertian hama hutan ada 2, yaitu secara umum dan secara khusus. Penngertian secara umum adalah binatang yang menimbulkan kerusakan dan kerugian pada sumber daya hutan. Sedangkan pengertian secara khusus adalah hama hutan yang terbatas pada binatang perusak tanaman hutan yang menimbulkan kerusakan, dengan tingkat kerugian yang melampaui batas toleransi (ambang ekonomi). Kerusakan ini berdampak pada tingkat kerugian ekonomi yang cukup berarti.
Pengertian penyakit hutan adalah mikroorganisme (jamur, bakteri, virus), berbagai jenis cacing dan tumbuhan tingkat tinggi yang menimbulkan kerugian pada sumberdaya hutan,. Penyebab penyakit disebut patogen. Penyakit adakah suatu proses atau akibat dari suatu penyebab penyakit (patogen). Jadi pernyataan “diserang penyakit” adalah tidak benar, seharusnya “diserang patogen, diserang jamur, diserang hama” dsb.
Gejala serangan adalah berupa kerusakan atau kelainan fisik pada tanaman. Hal ini disebabkan oleh aktivitas binatang pemakan tumbuhan terutama serangga dan oleh adanya penyakit. Gejala serangan sangat bervariasi, tergantung variasi bentuk dan alat mulut serangga, cara hidup serangga dan patogen, serta bagian tanaman yang diserang. Tanda hama, contohnya serangga, baik dalam bentuk dewasa, nimfa, larva maupun telur, bagian tubuh serangga dan kotoran serangga. Adapun tanda penyakit contohnya, miselia jamur, spora, tubuh buah, cairan bakteri, berbagai jenis cacing, bagian tanaman parasit dsb. Tanda lain adalah bau dan keluarnya getah.

1.2 Tujuan Praktikum             
Tujuan Instruksional Umum (TIU) dari kegiatan praktik ini adalah agar mahasiswa dapat  melakukan inventarisasi hama dan penyakit pada semua tingkatan pertumbuhan.
Adapun Tujuan Instruksional Khusus (TIK) dari kegiatan praktik ini, mahasiswa diharapkan dapat:
1. Mengenali beberapa hama dan penyakit melalui pengamatan secara visual pada objek yang telah ditentukan.
2. Menghitung Intensitas dan Frekuensi Serangan (IS) dan (FS) serta menentukan tingkat kriteria serangan.

II.TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Hama Hutan
Hama adalah semua binatang yang menimbulkan kerugian pada pohon hutan dan hasil hutan seperti serangga, bajing, tikus, babi, rusa dan lain-lain. Tetapi kenyataan di lapangan hama yang potensial dan eksplosif menimbulkan kerugian adalah dari golongan serangga. Sehingga masyarakat umumnya mengidentikan hama sama dengan serangga (Perhutani, 2008).
Ada empat faktor utama yang memungkinkan hama dan penyakit dapat berkembang dengan baik, yaitu adanya tanaman inang (tanaman hutan) yang rentan dalam jumlah cukup, adanya hama dan patogen yang ganas, kondisi lingkungan yang sesuai untuk perkembangan hama dan penyakit tersebut, dan manusia yang ikut mendukung timbul atau tidaknya suatu hamapenyakit. Hama-penyakit menyerang tanaman hutan mulai dari biji, bibit di persemaian, tanaman muda di lapangan, tegakan siap tebang, sampai pada hasil hutan yang berada dipenyimpanan. Serangan hama-penyakit juga tidak memilih, hampir seluruh bagian tanaman diserangnya mulaidari akar, batang, sampai pada daun. Perlindungan terhadap hama-penyakit akan mulai dirasakan pentingnya apabila sudah terjadi serangan yang sangat hebat (outbreak/eksplosif/wabah), yang sebenarnya keberadaan hama-penyakit tersebut telah lama, tetapi karena akibatnya belum dirasakan atau masih sedikit jadi tidak dipedulikannya atau dibiarkan saja. Akibatnya lagi hamapenyakit makin merajalela sampai akhirnya menimbulkan kerugian yang tidak sedikit (Perhutani, 2008).
2.2 Pengertian Penyakit Hutan
Penyakit adalah adanya kerusakan proses fisiologis yang disebabkan oleh suatu tekanan/gangguan yang terus menerus dari penyebab utama (biotik /abiotik) yang mengakibatkan aktivitas sel/jaringan menjadi abnormal, yang digambarkan dalam bentuk patologi yang khas yang disebut gejala/tanda. Gejala/tanda inilah yang memberikan petunjuk apakah pohon di dalam hutan sehat atau sakit (Perhutani, 2008).
2.3 Pengendalian Hama/Penyakit Secara Umum
Maksud dari pengendalian hama/ penyakit adalah untuk memperbaiki kuantitas dan kualitas hasil produksi tanaman yang diusahakan. Sedangkan tujuan dari pengendalian hama/penyakit adalah untuk mencegah terjadinya kerugian ekonomis serta menaikkan nilai produksi dari tanaman yang diusahakan. Jelaslah maksud dan tujuan dari pengendalian hama/ penyakit adalah untuk mempertahankan tingkat produksi yang tinggi, mantap dan berkesinambungan, tetapi secara ekologis dan ekonomis dapat dipertanggungjawabkan, bahkan sekarang ini dikaitkan dengan kelestarian lingkungan. Jadi hama/penyakit haruslah ditekan atau dikurangi dan ditiadakan sampai di bawah ambang ekonomis. Usaha pengendalian dilakukan apabila biaya yang dikeluarkan lebih kecil daripada kerugian yang terjadi akibat serangan hama/penyakit. Dalam prakteknya pengendalian hama/penyakit dapat berupa : - Pencegahan (preventive) artinya kita melakukan suatu tindakan atau usaha agar tanaman yang masih sehat terhindar dari hama/penyakit (sebelum adanya hama dan penyakit). - Pemberantasan (control) artinya kita mengusahakan atau melakukan tindakan-tindakan terhadap tanaman yang sudah terserang hama/penyakit, dengan harapan agar tanaman itu akan sembuh dan normal kembali. Hadi (1990) mengatakan bahwa konsepsi dasar perlindungan hutan dari serangan hama/penyakit sedikit berbeda dengan yang biasa digunakan untuk perlindungan tanaman pertanian karena beberapa hal, antara lain:
 a. Hasil utama yang dipanen dari hutan adalah kayu, meskipun ada beberapa perkecualian seperti biji pada hutan tengkawang (Shorea stenoptera), dan hasil hutan non-kayu seperti rotan, bahan obat-obatan yang terkandung dalam rhizom, daun dan sebagainya.
b. Di dalam hutan, jenis-jenis pohon yang tumbuh tidak dikelola secara intensif seperti pada pertanaman pertanian, walau di beberapa negara pengelolaan hutan tanaman mulai dilakukan secara intensif, namun demikian pada umumnya masih belum seintensif pada pertanaman pertanian.
c. Bagian pohon yang dikeluarkan dari hutan adalah batangnya apabila hutan tersebut adalah hutan produksi kayu pertukangan, dan batang beserta seluruh percabangannya apabila untuk produksi serat dan energi.
d. Daur hutan dapat mencapai puluhan tahun kecuali untuk produksi serat dan produksi energi, yang lebih pendek.
e. Hutan dapat mempunyai fungsi lain disamping untuk produksi, antara lain untuk melindungi tanah dari penghanyutan oleh air hujan, tata air, perlindungan marga satwa dan sebagainya.
f. Banyak hutan terletak di tempat-tempat yang terpencil, tidak mudah dicapai, dan tidak banyak dihuni manusia yang dapat membatasi kemungkinan untuk pengelolaannya secara intensif termasuk dalam upaya perlindungannya terhadap gangguan hama/penyakit.
g. Siklus hidup jenis-jenis pohon yang biasanya panjang, menyebabkan pemuliaan dalam upaya untuk memperoleh varietas unggul yang resisten terhadap hama/penyakit, menjadi lebih sulit dan memerlukan program jangka panjang. Pusat Litbang Peningkatan Produktivitas Hutan selama ini telah berhasil melakukan pengendalian hama dan penyakit pada sengon, jabon dan gmelina (Perhutani, 2008).


III. METODE PRAKTIKUM
3.1 Tempat dan Waktu
Praktek dilaksanakan di Jurusan Kehutanan Universitas Palangka Raya pada tanggal 22 Juni dan 24 Juni 2019.
3.2 Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktek Perlindungan dan Pengamanan Hutan adalah :
1.      Objek Tanaman
2.      Meteran
3.      Parang
4.      Alat tulis-menulis
5.      Kamera/HP
6.      Tali rafia
3.3 Cara Kerja
          Cara kerja yang digunakan dalam praktek ini adalah :
1.      Membuat jalur plot dengan ukuran 20x20 m.
2.      Mengamati dan mencatat informasi hama dan penyakit yang dijumpai. Pengamatan akibat hama dan penyakit difokuskan pada seluruh bagian tanaman yang diserang yaitu, akar, batang dan daun.
3.      Mengidentifikasi gejala pada tanaman dengan cara melihat perubahan fisik yang ditimbulkan oleh tanamann, seperti adanya daun berlubang, daun sebagian atau seluruh habis dimakan, pucuknya terpotong, batangg berlubang, bercak daun, busuk daun, mati, pucuk dan sebagaimya.
4.      Mencacat hasil praktek di tallysheet.
5.      Mengambil foto dari sampel tanamann yang diamati.
6.      Mengambil sampel tanaman yang terserang hama/penaykit jika memungkinkan.
7.      Menghitung besarnya frekuensi dan intensitas serangan serta kriteria tingkat serangan.

IV. PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Adapun hasil yang diketahui setelah dilakukan pengaman yaitu seperti yang dibawah ini :
Diketahui X1      = 14 (Merana Ringan)
                 X2      = 14 (Merana Sedang)
                 X3      = 2 (Merana Berat)
                 X4      = 0 (Merana sangat Berat)
Frekuensi serangan hama menurut (James 1974) :
FS = 37/52 x 100% = 0,71 %
Intensitas Serangan (IS) dihitung dengan menggunakan rumus menurut de Guzman (1985), Singh dan Mishra (1992) yang dimodifikasi Mardji (1994).
IS = x1y1+x2y2+x3y3+x4y4+x5y5/xy5 x 100%
     =14,1+14,2+2,3/52,5 x 100%
    = 14+28+6/260 x 100%
    = 48/26- = 0,18% (Tingkat Kerusakan Ringan)
Adapun tabel pada plot 20m x 20m untuk jenis-jeis Tumbuhan dan kriteria penyakitnya :
Tabel 1. Jenis Tumbuhan dan Kriteria Penyakitnya
No
Nama Tumbuhan
Tingkat
Kriteria
Skor
1
Akasia Daun Lebar
Tiang
Merana Sedang
2
2
Akasia Daun Lebar
Pohon
Merana Sedang
2
3
Pulai
Pancang
Merana Ringan
1
4
Akasia Daun Lebar
Pohon
Merana Sedang
2
5
Akasia Daun Lebar
Pohon
Merana Sedang
2
6
Akasia Daun Lebar
Tiang
Merana Sedang
2
7
Jelutung
Pancang
Merana Sedang
2
8
Balangeran
Pancang
Merana Berat
3
10
Pulai
Pancang
Merana Sedang
2
11
Pulai
Tiang
Merana Ringan
1
12
Pulai
Tiang
Merana Ringan
1
13
Pulai
Pancang
Sehat
0
14
Pulai
Pancang
Sehat
0
15
Pulai
Tiang
Merana Ringan
1
16
Pulai
Tiang
Merana Ringan
1
17
Pulai
Tiang
Merana Sedang
2
18
Pulai
Tiang
Merana Ringan
1
19
Pulai
Tiang
Merana Ringan
1
20
Pulai
Tiang
Sehat
0
21
Jelutung
Tiang
Merana Sedang
2
22
Pulai
Tiang
Merana Ringan
1
23
Pulai
Tiang
Merana Ringan
1
24
Pulai
Tiang
Merana Ringan
1
25
Akasia
Tiang
Merana Ringan
1
26
Pulai
Semai
Mati
5
27
Akasia
Semai
Mati
5
28
Pulai
Semai
Mati
5
29
Rambutan
Semai
Mati
5
30
Akasia
Semai
Mati
5
31
Jelutung
Pancang
Sehat
0
32
Pulai
Pancang
Merana Sedang
2
33
Mahoni
Pancang
Sehat
0
34
Balangeran
Pancang
Merana Sedang
2
35
Mahoni
Pancang
Sehat
0
36
Mahoni
Pancang
Sehat
0
37
Pulai
Pancang
Sehat
0
38
Beringin
Pancang
Merana Ringan
1
39
Mangga
Tiang
Merana Ringan
1
40
Akasia Daun Kecil
Pohon
Merana Sedang
2
41
Akasia Daun Kecil
Pohon
Merana Sedang
2
42
Pulai
Pancang
Sehat
0
43
Rambutan
Pohon
Merana Ringan
1
44
Mangga
Pohon
Merana Berat
3
45
Mahoni
Pancang
Sehat
0
46
Mahoni
Pancang
Sehat
0
47
Rambutan
Pancang
Sehat
0
48
Pulai
Semai
Sehat
0
49
Jelutung
Semai
Sehat
0
50
Pulai
Tiang
Sehat
0
51
Rambutan
Semai
Sehat
0
52
Pulai
Pancang
Sehat
0

4.2 Pembahasan
Adapun Pembahasan dari tabel diatas dapat dijelaskan bahwa seperti pada pengamatan di lapangan dapat dijelaskan bahwa penyebab kriteria pada tanaman seperti merana ringan, sedang dang berat disebabkan oleh hama Sexava nubila, yaitu yang dimakan pada bagian daun tumbuhan tersebut.
Menurut Hosang  (2005), bahwa hama Sexava nubila memakan anak daun yang dimulai dari pinggir ke bagian tengah, kadang-kadang dimakan sebagian atau sampai ke ujung. Bekas gigitan biasanya tidak rata, dan pada serangan berat daun tersebut akan dimakan sampai habis. Kalshoven (1991) juga mengemukakan, bahwa jenis belalang Sexava spp. biasanya merusak dengan cara memakan helaian daun, dan selain merusak tanaman, juga merusak tanaman lainnya seperti sagu, pinang, salak, dan lain sebagainya. Selanjutnya Setyamidjaja (1995) menambahkan, bahwa belalang Sexava nubila juga merusak bagian daun muda, kulit buah, dan bungabunganya.
Ciri-ciri tersebut sesuai dengan yang dikemukakan oleh Hosang (2005), yaitu bentuk dan warna telur Sexava nubila. seperti buah padi masak (gabah), salah satu ujung telur lancip dan lainnya bulat, telur tua panjangnya sampai 13mm dan lebarnya 3mm. Nimfa muda dan tua berwarna hijau, tetapi kadang-kadang berwarna coklat. Imago berwarna hijau, antena merah muda dan matanya abu-abu. Alat peletak telur (ovipositor) berwarna hijau pada bagian pangkalnya yaitu sepertiga dari panjang ovipositor, sepertiga lagi berwarna kemerahan dan bagian ujungnya berwarna hitam. Panjang imago betina (kepala + badan + ovipositor) antara 9.5 – 10.5 cm. Panjang ovipositor 3 – 4.5 cm dan panjang antena 16 cm. Panjang imago jantan 6 – 9.5 cm dan antenanya 14-16 cm.
Kerusakan yang disebabkan hama belalang juga dapat menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan pohon mengakibatkan tidak optimal 1% dikarenakan bagian batang merupakan alur  Filem-Floem pada pohon apabila telah dirusak oleh hama yang akan berpengaruh pada pertumbuhan pohon begitu juga pada bagian daun yang rusak, karna daun merupakan alat fotosintesis oleh tumbuhan apabila dirusak oleh hama akan berpengaruh pada tingkat fotosintesis pohon.
Hama belalang (V. nigricornis Burm.) menyerang terutama pada bagian daun, daun terlihat rusak karena terserang oleh hama tersebut. Jika populasinya banyak dan belalang sedang dalam keadaan kelaparan, hama ini bisa menghabiskan daun-daun sekaligus dengan tulang – tulangnya. Belalang kayu biasanya memilih tempat perkembangbiakan terutama di hutan jati, kemudian setelah dewasa akan muncul bersama-sama sampai ratusan ribu jumlahnya. Apabila makanan di sekitar hutan jati telah habis maka belalang kayu ini akan berpindah tempat secara bersama-sama untuk mencari sumber makanan. Belalang muda maupun dewasa sangat rakus dalam menghabiskan makanan. Belalang menyerang daun muda dan terdapat bekas gigitan tipe mulut pengunyah. Tipe serangan hanya parsial pada daun. Belalang hanya memakan sebagian daun (folium) dan bagian perbagian tidak secara menyeluruh pada satu daun (Rahmanto dan lestari, 2013).
Rayap pohon (Neotermes tectonae) membuat sarang di bagian batang pohon tanpa ada kontak dengan tanah. Rayap memakan bahan yang mengandung selulosa seperti kayu dan produk turunannya seperti kertas. Selulosa merupakan senyawa organik yang keberadaanya melimpah di alam namun tidak dapat dicerna oleh manusia maupun organisme tingkat tinggi lainnya sedangkan rayap dengan mudah dapat mencerna senyawa ini karena berfungsi melindungi koloni terhadap gangguan dari luar. Lisafitri (2012), menuturkan bahwa rayap kayu basah atau rayap pohon yaitu jenis-jenis rayap yang menyerang pohon yang masih hidup, bersarang di batang pohon dan tak berhubungan dengan tanah.
Menurut Suharti dkk. (2013), penanaman secara monokultur mempunyai resiko terserang hama dan penyakit. Penyakit dapat menyerang benih, bibit maupun tanaman di lapangan. Serangan penyakit dapat menurunkan kuantitas dan kualitas hasil.

V. PENUTUP
5.1 Kesimpulan
            Adapun kesimpulan yang didapat dari kegiatan praktikum ini adalah sebagai berikut :
  • ·  Belalang (V. nigricornis Burm) pada serangan berat, belalang mampu menghabiskan daun sekaligus tulang-tulang daun pada tanaman yang diamati. Pada serangan ringan, belalang memakan sebagian dari daun tumbuhan
  • ·      Hama Belalang pedang (Sexava nubila) menyerang bagian daun pada tumbuhan, serangan ringan pada tumbuhan menyebabkan bekas gigitan dari belalang pedang pada daun tumbuhan tidak rata. Untuk serangan berat dari belalang pedang yaitu daun pada tumbuhan dimakan habis oleh hama tersebut.
  • ·  Rayap pohon menyerang batang pohon untuk membuat sarang serta memakan bahan yang mengandung selulosa pada pohon
  • ·     Jumlah tanaman total tumbuhan yang terserang yaitu 52 dengan kriteria serangan sehat 17, merana ringan 14, merana sedang 14, merana berat 2 dan yang mati 5. Total intensitas serangan 0,18% dan frekuensi serangan 0,71%.
5.2 Saran
            Sebaiknya dalam mengidentifikasi hama dan serangan penyakit pada tumbuhan dilakukan dengan teliti untuk mendapatkan data yang akurat dan meminimalisir kesalahan.

DAFTAR PUSTAKA
Hosang, M.L.A. 2005. Bioekologi Hama Sexava spp. (Orthopthera :           Tettigoniidae). Monograf Hama dan Penyakit Kelapa. Balai Penelitian            Tanaman Kelapa dan Palma Lain. Manado. Hal. 1-10.
Kalshoven, L.G.K. 1981. The Pest Of Crops In Indonesia. PT. Iktiar Baru Van      Hoeve, Jakarta.
Lisafitri, Y., 2012. Mata Kuliah Keanekaragaman Hayati Tanahkeanekaragaman  Rayap Ordo Isoptera. Bioteknologi Tanah dan Lingkungan Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Jawa Barat.
Rahmanto, B., Lestari, F., 2013. Diagnosa Hama dan Penyakit Tanaman     Kehutanan. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan.Kementrian Kehutanan. Banjarbaru.
Setyamidjaja, D. 1995. Tanaman Kelapa. Kanisius. Yogyakarta. Penebar    Swadaya. Jakarta.
Suharti, T., Bramasto, Y., Yuniarti, N., 2013. Pengaruh Trichoderma Sp. pada        Media Bibit Terhadap Pertumbuhan Bibit Jabon Putih (Anthocepalus          cadamba). Jurnal Hutan Tropis Volume1 No. 2 Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Tanaman Hutan. Bogor.
 ðŸ’šðŸ’šðŸ’š














Comments

Popular posts from this blog

MAKALAH PERLINDUNGAN DAN PENGAMANAN HUTAN HAMA DI HUTAN ALAM DAN HUTAN TANAMAN

Laporan Praktikum Erosivitas Konservasi Sumber Daya Alam Hayati

Lahan Rawa di Indonesia